Sejak September silam, ekonomi dunia dirundung potensi bahaya dari guncangan perang dagang Trump. Dengan moto 'America First', Trump mencederai konsensus yang telah disepakati negara-negara G20 selama satu dekade dalam menjalani perdagangan internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ajang saling balas menaikkan tarif antara AS dan China ini mendorong kenaikan harga pada sejumlah produk China seperti penyedot debu hingga alat teknologi seperti modem. Di sisi lain, barang-barang AS yang ditargetkan China antara lain gas alam cair dan jenis pesawat tertentu.
Belum reda api konflik perang dagang, agenda lain sudah menanti untuk dibahas di KTT G20 mendatang. Trump mengancam akan membatalkan pertemuan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Trump memang dijadwalkan akan bertemu dengan Putin di sela-sela pertemuan G20 mendatang. Keduanya akan membahas berbagai isu mulai dari pengendalian senjata, konflik Timur Tengah, hingga masalah Ukraina.
Pada pekan lalu, Rusia dan Ukraina kembali bersitegang di Selat Kerch, Laut Hitam. Rusia melepaskan tembakan dan menyita tiga kapal Ukraina yang mereka klaim memasuki wilayah Moskow. Sedangkan, Ukraina mengaku bahwa kapal mereka ditembaki setelah awak memutuskan menjauh dan kembali ke pelabuhan di Odesa.
Insiden ini dinilai mampu memicu kembali perselisihan terbuka antara AS dan Rusia negara seperti terjadi pada 2014 silam saat kedua negara terlibat pertikaian atas Krimea.
Lihat juga:Ukraina Minta Bantuan NATO Hadapi Rusia |
(dna/wis)