Kongres AS sempat menolak anggaran sebesar US$5,7 miliar (sekitar Rp72,8 triliun) yang diajukan Trump untuk pembangunan tembok perbatasan. Perundingan antara dua kubu itu sempat menemui jalan buntu dan akhirnya pemerintahan AS resmi ditutup pada 22 Desember 2018.
Trump akhirnya setuju membuka pemerintahan pada 26 Januari tanpa mendapatkan dana pembangunan tembok perbatasan. Namun pembukaan itu dikatakan hanya terbatas sampai 15 Februari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Twitter]
Pilihan Redaksi |
Disiarkan AFP, pada awalnya Trump menggunakan kata "wall" buat kampanye tembok perbatasan yang kemudian menimbulkan aksi politik "build the wall".
[Gambas:Twitter]
Namun sejak ada upaya penolakan dari Demokrat yang menganggap Trump menjelekkan imigran Amerika Tengah dan mempromosikan teknologi "dinding abad pertengahan" kata "wall" diganti menjadi "barrier" (pembatas).
Lantas pada Desember lalu, Trump menjelaskan dia sebenarnya meminta bilah baja buat pembatas perbatasan alih-alih struktur tembok yang solid.
Terlepas dari permainan kata, Demokrat tetap teguh menolak dukungan pada proyek Trump itu.
"Mari kita menyebutnya 'Tembok' dari sekarang dan berhenti bermain politik. 'Tembok' adalah 'Tembok'," kata Trump.
Trump mengatakan bila anggaran tembok perbatasan tidak didapat pada 15 Februari, maka dia akan memberlakukan penutupan pemerintahan lagi atau mencari cara melewati kongres dengan menggunakan dana darurat.
"Saya akan melakukan itu," ujarnya. (fea)