Trump membuka kemungkinan ini dalam sebuah wawancara pada program 'Face the Nation' di stasiun televisi CBS pada Minggu (3/2).
Dalam sesi tersebut, Trump menyebut intervensi militer menjadi salah satu pilihan sikap AS. Namun, ia tak menjabarkan kondisi spesifik yang dapat memicu AS mengirimkan militer ke negara Amerika Selatan itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain opsi militer, Gedung Putih juga telah memberikan berbagai tekanan kepada Maduro untuk mundur, termasuk menerapkan embargo terhadap perusahaan minyak utama Venezuela, PDVSA, pada pekan lalu.
Sanksi itu dijatuhkan AS dengan harapan bisa memblokir sumber pemasukan Venezuela yang selama ini menopang rezim Maduro.
Selain menyerukan protes anti-Maduro di seluruh negeri, Guaido juga membujuk petinggi militer untuk membelot dari rezim rivalnya itu dengan imbalan amnesti.
Menurut Guaido, dukungan militer Venezuela sangat krusial bagi kesuksesan menggulingkan Maduro.
[Gambas:Video CNN]
Sejak itu, AS mengakui Guaido sebagai pemimpin sah Venezuela dan mendukung kampanye global untuk mendepak Maduro dari kepemimpinan negara tersebut.
Selain AS, empat negara utama Uni Eropa seperti Inggris, Perancis, Jerman, dan Spanyol juga menyatakan akan mengambil langkah serupa jika Maduro tidak juga menggelar pemilihan umum presiden paling lambat Minggu (3/2) tengah malam.
Maduro menolak ultimatum Uni Eropa tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Spyanol, Sexta, Maduro menegaskan dirinya "tidak akan menyerah pada tekanan" dari pihak-pihak yang mendesaknya lengser. (rds/has)