Lima Anggota Abu Sayyaf Serahkan Diri Terkait Bom Gereja

CNN Indonesia | Senin, 04/02/2019 16:35 WIB
Lima Anggota Abu Sayyaf Serahkan Diri Terkait Bom Gereja Lima anggota Abu Sayyaf menyerahkan diri ke kepolisian Filipina terkait bom ganda di salah satu gereja di Jolo, Mindanao, yang menewaskan 23 orang. (NICKEE BUTLANGAN/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lima anggota Abu Sayyaf, termasuk salah satu petinggi kelompok militan tersebut, menyerahkan diri ke kepolisian Filipina terkait bom ganda di salah satu gereja di Jolo, Mindanao, yang menewaskan 23 orang.

"Dia menyerahkan diri. Dia kemungkinan tidak mau mati dalam operasi militer," ujar Kepala Kepolisian Filipina, Oscar Albayalde, sebagaimana dikutip Reuters, Senin (4/2).

Militer Filipina memang melakukan gempuran besar-besaran terhadap Abu Sayyaf yang diduga kuat bertanggung jawab atas serangan di gereja tersebut.
Dalam satu operasi di daerah Patikul pada Sabtu (2/2) lalu saja, tiga militan Abu Sayyaf tewas di tangan tentara Filipina.


Salah satu petinggi Abu Sayyaf yang menyerahkan diri, Kammah Pae, mengaku tak terlibat dalam plot penyerangan tersebut.

Namun, sejumlah saksi mata mengaku melihat Pae berkoordinasi dengan dua pelaku pengeboman yang diduga warga negara Indonesia.
Pasukan keamanan juga menemukan alat peledak buatan (IED) dan komponen untuk merakitnya di rumah Pae.

Meski kelima orang ini sudah menyerahkan diri, Albayalde menganggap penyelidikan pengeboman ini masih jauh dari kata selesai.

"Masih banyak bukti yang harus diteliti dengan sangat hati-hati," tuturnya.

[Gambas:Video CNN]

Salah satu isu yang menjadi sorotan dalam penyelidikan ini adalah dugaan bahwa dua tersangka pelaku pengeboman tersebut merupakan warga negara Indonesia.

Meski penyelidikan belum rampung, Menteri Dalam Negeri Filipina, Eduardo Ano, sudah mengumumkan kepada media mengenai dugaan tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) RI, Wiranto, pun memprotes sikap Filipina ini.
"Saat ini cukup ramai dibicarakan mengenai tuduhan dari pihak Filipina terutama Menteri Dalam Negeri (Filipina) bahwa ada keterlibatan WNI dalam aksi teror di Filipina. Di sini saya sampaikan bahwa itu kan berita sepihak," ujar Wiranto di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Senin (4/1).

Wiranto mengatakan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kementerian Luar Negeri RI saat ini masih melakukan pengecekan serta terus berkoordinasi dengan otoritas terkait.

"Jadi tidak buru-buru itu divonis orang Indonesia," ujarnya. (has/has)