Duterte Lantik Tokoh Pemberontak jadi Pemimpin Mindanao

CNN Indonesia | Sabtu, 23/02/2019 01:31 WIB
Duterte Lantik Tokoh Pemberontak jadi Pemimpin Mindanao Pemimpin kelompok Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Murad Ibrahim. (Dok. Marconi Navales)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Filipina hari ini melantik pemimpin kelompok Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Murad Ibrahim, sebagai Menteri Interim Daerah Otonomi Islam Mindanao. Hal ini diharapkan bisa membawa perdamaian yang abadi di kepulauan selatan Filipina itu, setelah melalui konflik selama puluhan tahun.

Seperti dilansir AFP, Jumat (22/2), pelantikan dan pengambilan sumpah terhadap Ibrahim dilakukan di Ibu Kota Manila. Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, dan Ibrahim berharap hal ini bisa merawat perdamaian dan menekan pergolakan kelompok radikal di kawasan Mindanao.
"Jalan menuju perdamaian mungkin memang panjang dan sulit, tetapi saya senang akhirnya kita bisa sampai ke tahap ini. Di samping itu, kami ingin melihat akhir dari kekerasan yang sudah merusak Mindanao dan menelan banyak korban jiwa," kata Duterte saat pidato usai pelantikan Ibrahim.

Murad dan lembaga transisinya harus segera bekerja untuk membentuk kabinet dan menyusun undang-undang, sampai masa perjanjian sementara berakhir dan pemilihan regional pada Mei 2022 mendatang.


Di sisi lain, Murad juga harus melucuti persenjataan sebagian dari 10 ribu prajuritnya.

Keputusan ini dilakukan setelah hasil jajak pendapat di Mindanao yang digelar Januari lalu. Kesepakatan ini diharapkan mengakhiri pemberontakan yang meletup sejak 1970-an.
Pemberontakan itu mulanya dilakukan untuk membentuk negara Islam di kawasan Mindanao. Perjanjian perdamaian antara pemerintah Filipina dan pemberontak Bangsamoro mulanya diteken pada 1996. Namun, hal itu sempat gagal karena korupsi.

Masalah yang terjadi saat ini di Mindanao adalah radikalisme. Masih segar di ingatan ketika kelompok bersenjata klan Maute dan faksi Abu Sayyaf pimpinan mendiang Isnilon Hapilon menguasai Kota Marawi. Pemerintah Filipina butuh waktu lima bulan untuk merebut kembali kota itu, dan ribuan orang meninggal dalam pertempuran. (ayp/ayp)