Saling Menguatkan, Keluarga Korban MH 370 Bertemu Tiap Tahun

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 02/03/2019 13:31 WIB
Saling Menguatkan, Keluarga Korban MH 370 Bertemu Tiap Tahun Malaysia Airlines MH 370 hilang pada 8 Maret 2014 silam. (REUTERS/Jason Reed)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hilangnya pesawat terbang Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH 370 di laut China Selatan masih membekas di ingatan keluarga korban. Setiap tahun mereka pun masih bertemu satu sama lain untuk saling menguatkan diri.

Biasanya mereka hanya bertemu di kedai kopi atau di suatu rumah di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain menguatkan mental satu sama lain, pertemuan ini ditujukan agar insiden hilangnya pesawat itu tak luput dari perhatian masyarakat.

Salah satu anggota keluarga korban MH 370, Jacquita Gonzales, mengatakan pertemuan ini awalnya ditujukan untuk bersama-sama menggali informasi terkait nasib orang terkasih mereka. Namun, lambat laun, pertemuan ini menjadi wadah bagi anggota keluarga untuk saling memberi dukungan.


"Kami tidak hanya bersama-sama menunggu jawaban (terkait peristiwa tersebut), tapi kelompok ini sudah seperti keluarga. Keluarga besar," ujar Gonzales, yang sampai saat ini masih menunggu kepastian nasib suaminya, Patrick Gomes.

Selama lima tahun, keluarga korban mencoba untuk tidak berduka terus menerus dan tetap tegar dalam bekerja hingga membesarkan anak. Namun bagi Gonzales, dukungan dari kelompok ini cukup membantunya dalam menghadapi vonis kanker payudara yang telah didapatnya sejak 2016 silam.

"Ini adalah kanker kedua. Ketika saya mengidap kanker pertama kali, saya memiliki suami yang selalu mendukung. Di kanker kedua ini, sayangnya tidak ada suami saya. Tapi saya punya anak-anak, teman-teman, dan kini saya juga mendapat dukungan dari para keluarga korban MH370," imbuh dia.

Hal serupa juga dirasakan Calvin Shim. Pria dengan dua anak ini mengatakan dukungan dari keluarga korban MH370 membantunya untuk tetap kuat menjadi orang tua tunggal. Sebab sang istri, Christine Tan, harus mengalami nasib nahas kala bertugas di pesawat yang seharusnya bertolak ke Beijing tersebut.

"Keluarga yang lain tentu memahami perasaan ini. Pertemuan ini sangat membantu kami secara emosional. Khususnya, ketika pesawat masih belum ditemukan hingga saat ini," jelas dia.

Malaysia Airlines MH 370 hilang pada 8 Maret 2014 silam. Peristiwa yang menelan korban 239 orang ini dinobatkan sebagai misteri terbesar yang belum terpecahkan di sejarah industri penerbangan.

Serpihan pesawat tersapu ombak dan mendarat di perairan timur Afrika. Hanya saja, pencairan bawah laut yang dilakukan di sisi selatan Samudera Hindia tak membuahkan hasil. Hasilnya, tak ada petunjuk tersisa untuk menerangkan peristiwa yang terjadi sebenarnya.

Pada awal 2017, Malaysia, China, dan Australia menghentikan proses di Samudera Hindia yang telah menelan dana US$144 juta dan berlangsung selama dua tahun. Pencarian lain yang dipimpin oleh perusahaan eksplorasi Amerika Serikat, Ocean Infinity, di sisi utara Samudera Hindia juga disetop pada Mei tahun lalu.

Laporan setebal 495 halaman yang dirilis Juli lalu menyatakan, pesawat Boeing 777 tersebut bergerak keluar dari jalur yang seharusnya. Namun, penyelidik tidak bisa menentukan pihak yang bertanggung jawab.

Pemerintah Malaysia berjanji untuk melanjutkan pencarian asal ada bukti baru yang mencuat. (glh/vws)


ARTIKEL TERKAIT