Kisah Ahmed Khan dan Memori Jumat Kelabu di Selandia Baru

CNN Indonesia | Minggu, 17/03/2019 03:15 WIB
Kisah Ahmed Khan dan Memori Jumat Kelabu di Selandia Baru Ilustrasi lokasi penembakan di Selandia Baru. (REUTERS/SNPA/Martin Hunter)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika Ahmed Khan pindah dari Selandia Baru sebagai seorang pengungsi dari Afghanistan 12 tahun yang lalu, ia berpikir telah meninggalkan segala hal yang berhubungan dengan kekerasan dan kematian dari tanah kelahirannya.

Akan tetapi pada Jumat (15/3), saat Khan sedang beribadah di Masjid Linwood di kota Christchurch, seorang pria bersenjata mulai menembaki jemaah tanpa pandang bulu.

Khan mengatakan sempat menarik anak kecil yang terluka untuk keluar dari bahaya. Ia juga membantu seorang pria yang kena tembak di bagian lengan, sampai akhirnya pelaku bersenjata itu kembali memburu korban yang masih hidup.


"[Pria kena tembak di lengan] meminta air. Saya berkata kepada dia, 'Tenang, polisi ada di sini sekarang'. Dan pelaku penembakan datang melalu jendela saat saya sedang memegang pria itu. Pria itu ditembak di kepala dan tewas," kata Khan seperti yang dikutip dari CNN pada Sabtu (16/3).
Beruntung Khan selamat dari tembakan. Mantan pengungsi tersebut menyampaikan alasan memilih Selandia Baru sebagai tempat tinggal baru, karena merasa negara itu aman.

"Kami merasa Christchurch kota yang aman di negara yang aman. Namun ternyata 'kebencian' telah menyebar ke mana-mana," ucap laki-laki berusia 30 tahun yang bekerja sebagai manajer proyek konstruksi ini.

Sementara itu beberapa blok dari tempat penembakan Khan, di Masjid Al Noor, paman Khan diyakini sebagai salah satu dari 41 orang yang ditembak mati di sana saat salat.

Keesokan hari dari peristiwa tersebut, banyak keluarga menunggu dengan sabar petugas yang bekerja untuk mengidentifikasi jenazah.

Pembantaian itu mengejutkan penduduk setempat. Bukan hanya karena kejadian itu terjadi di Selandia Baru, tapi juga karena itu direncanakan agar orang tahu bahwa bahkan di tempat paling aman di dunia pun bisa terjadi teror.

[Gambas:Video CNN]

Penembakan itu terjadi di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru. Yakni di Masjid Linwood dan Masjid Al Noor. Peristiwa terjadi ketika umat Islam setempat hendak menggelar Salat Jumat.

Korban meninggal di Masjid Al Noor mencapai 41 orang. Sedangkan yang mengembuskan napas terakhir di Masjid Linwood mencapai tujuh orang. Satu orang tutup usia setelah dalam kondisi kritis di rumah sakit.

Aparat kepolisian Selandia Baru lantas menangkap empat orang, terdiri dari tiga lelaki dan satu perempuan, terkait kejadian itu. Seorang pelaku, Brenton Tarrant, adalah warga Australia.

Brenton menyatakan diri sebagai penganut ideologi ekstrem kanan dan supremasi kulit putih. Dia sempat mengirim manifesto pemikirannya sebelum melakukan aksinya.
Brenton bahkan merekam aksi keji itu dan disiarkan secara langsung melalui akun Facebook miliknya. Dia sudah diseret ke pengadilan dan didakwa dengan pasal pembunuhan.

Tiga warga Indonesia menjadi korban dalam kejadian itu. Salah satu di antaranya, Lilik Abdul Hamid, meninggal.

Sedangkan dua orang lainnya, yakni Zulfirmansyah dan anaknya, dirawat di ruang perawatan intensif di Rumah Sakit Christchurch. Zulfirmansyah disebut dalam keadaan kritis dan menjalani dua kali bedah. Sedangkan anaknya sudah stabil. (map/ayp)