Nama pengungsi tersebut, Khalid Mustafa, dan anaknya, Hamza, menggema di pemakaman Muslim yang dikhususkan untuk para korban penembakan di dua masjid di Christchurch pada Jumat pekan lalu.
Doa lantas dipanjatkan sembari kedua jenazah diturunkan ke liang lahat. Sejumlah anggota keluarga pengungsi Suriah itu pun menangis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu orang yang ikut menghadiri upacara pemakaman massal tersebut, Jamil El-Biza, mengaku sempat berbincang dengan Zaid.
El-Biza mengaku mendengar Zaid berkata di depan liang lahat, "Saya seharusnya tidak berdiri di sini. Saya seharusnya berbaring di samping kalian."
Alabi Lateef, yang juga sempat menghalau pelaku teror di Masjid Linwood, mengaku turut membantu mempersiapkan jasad Khalid dan Hamza agar dapat dikuburkan sesuai tradisi Islam.
"Saya membantu memandikan jenazahnya kemarin," tutur Lateef kepada AFP.
Menurut tradisi Islam, seseorang seharusnya dimakamkan dalam kurun waktu 24 jam setelah meninggal dunia. Namun, karena proses identifikasi yang memakan waktu lama, jenazah para korban baru dapat dimakamkan beberapa hari setelahnya.
[Gambas:Video CNN]
Sejumlah keluarga pun mengaku kecewa meski tak dapat berbuat apa-apa karena kepolisian memang membutuhkan waktu untuk autopsi.
Hingga proses penguburan hari ini, hanya enam dari 50 jasad korban yang sudah berhasil diidentifikasi.
Komisioner kepolisian Selandia Baru, Mike Bush, mengatakan bahwa pihaknya berupaya melakukan autopsi secepatnya, bahkan jika bisa, semuanya rampung malam ini.
"Tak akan dapat dimaafkan jika kami mengembalikan jasad ke keluarga yang tak sesuai," kata Bush. (has)