"Sayangnya, Trump berperilaku seperti bocah pembully. Dia melakukan hal yang sama soal (status) Kota Yerusalem," ucap Erdogan dalam wawancara bersama televisi A Haber, Rabu (27/3).
Pada awal pekan ini, Trump kembali membuat geram komunitas internasional lantaran memutuskan mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah kedaulatan Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Israel mencaplok Dataran Tinggi Golan dari Suriah dalam Perang Enam Hari pada 1967 silam. Mereka menganeksasi Dataran Tinggi Golan secara efektif pada 1981, tapi tak pernah diakui oleh komunitas internasional.
Sebelum Golan, Trump juga pernah membuat keputusan kontroversial serupa yakni dengan mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Padahal, kota suci bagi tiga agama itu telah lama menjadi sumber konflik Israel-Palestina, di mana kedua belah pihak mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota negaranya.
Lihat juga:FOTO: Dilema Dataran Tinggi Golan |
Erdogan menuturkan AS "lebih memilih memicu eskalasi konflik daripada berkontribusi dalam perdamaian."
Tak hanya Turki, sejumlah negara Timur Tengah termasuk Suriah juga menentang keputusan Trump tersebut. Lima negara Eropa seperti Perancis, Inggris, Belgia, Jerman, dan Polandia juga menganggap langkah Trump itu memancing krisis baru di kawasan.
Kelima negara itu menyatakan bahwa posisi Eropa tidak berubah, di mana Golan tetap menjadi wilayah Suriah yang diduduki Israel.
[Gambas:Video CNN]
Negara anggota DK PBB lain seperti China, Rusia, Indonesia, dan Afrika Selatan juga turut menentang keputusan AS tersebut. (rds/ayp)