Meksiko Desak Spanyol Minta Maaf Atas Kekejaman Penjajahan

CNN Indonesia | Jumat, 29/03/2019 03:28 WIB
Meksiko Desak Spanyol Minta Maaf Atas Kekejaman Penjajahan Presiden Meksiko, Andres Manuel López Obrador. (Reuters/Henry Romero)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Meksiko dan Spanyol sedang berselisih. Pangkal persoalannya adalah Spanyol enggan meminta maaf terhadap pembantaian sejumlah warga asli Meksiko ketika negara itu menjajah sekitar lima abad silam.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (28/3), Presiden Meksiko, Andres Manuel López Obrador, menyatakan sudah menulis surat kepada Raja Spanyol, Felipe VI, dan Pemimpin Tahta Suci Vatikan, Paus Fransiskus. Isinya adalah meminta mereka meminta maaf kepada penduduk asli Meksiko atas kekejaman di masa penjajahan.
"Saya sudah mengirim surat kepada Raja Spanyol dan Paus supaya mereka meminta maaf kepada penduduk asli (Meksiko) atas pelanggaran terhadap apa yang kita kenal saat ini sebagai hak asasi manusia," kata Obrador.

Menurut Obrador, isi surat juga menyinggung soal peristiwa pembantaian warga asli Meksiko oleh penjajah Spanyol pada awal abad 16.


"Gereja-gereja dibangun di atas reruntuhan kuil, pahlawan kami diasingkan. Kami ingin rekonsiliasi, tetapi terlebih dulu minta mereka menyatakan maaf," kata Obrador saat berkunjung ke situs arkeologi di Negara Bagian Tabasco.
Kementerian Luar Negeri Spanyol menanggapi surat Obrador. Namun, mereka menolak menyampaikan permohonan maaf.

"Keberadaan Kerajaan Spanyol di Meksiko pada 500 tahun lalu tidak bisa dihakimi dalam konteks masa kini. Pemerintah Spanyol menyampaikan harapan untuk bisa bekerja sama dengan pemerintah Meksiko," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Spanyol.
Meksiko adalah salah satu mitra utama perdagangan Spanyol. Namun, pemerintah Meksiko belum meratifikasi perjanjian perdagangan baru yang disepakati antara Spanyol dan Uni Eropa pada 2018 lalu. (ayp/ayp)