Sidang Lanjutan Pelaku Teror Selandia Baru Digelar Tertutup

CNN Indonesia | Kamis, 04/04/2019 13:58 WIB
Sidang Lanjutan Pelaku Teror Selandia Baru Digelar Tertutup Pelaku teror penembakan di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, Brenton Harrison Tarrant (tengah). (Mark Mitchell/New Zealand Herald/Pool via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sidang lanjutan pelaku teror penembakan di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, Brenton Harrison Tarrant, akan digelar pada Jumat (5/4) besok. Namun, proses peradilan terhadap warga Australia dilaporkan akan berlangsung tertutup.

Pengadilan Tinggi Christchurch disebut menerima 12 permintaan izin dari media lokal, asing, dan organisasi lainnya untuk meliput, mengambil rekaman suara dan gambar, hingga membuat film selama persidangan berlangsung.

Meski begitu, dikutip New Zealand Herald, Hakim Pengadilan Tinggi Christchurch, Cameron Mander, menolak seluruh permintaan itu.


Melalui pernyataan yang dikeluarkannya, Mander mengatakan salah satu faktor sidang digelar tertutup ada supaya menjaga integritas dan memastikan proses persidangan berjalan adil.
Meski tertutup, wartawan disebut akan diizinkan berada di ruang sidang untuk melihat dan membuat catatan selama persidangan.

Wartawan surat kabar dan televisi masih diperbolehkan mengambil dan menggunakan gambar sang terdakwa yang diambil di awal persidangan.

Kepolisian Selandia Baru mengatakan akan menjerat Tarrant dengan 89 dakwaan dalam persidangan besok.

Sebanyak 50 dakwaan terkait upaya pembunuhan, sementara 39 tuntutan lainnya terkait percobaan pembunuhan.

"Pria yang ditangkap terkait serangan teror Christchurch akan menghadapi 50 tuntutan pembunuhan dan 39 dakwaan percobaan pembunuhan saat hadir di Pengadilan Tinggi Christchurch pada Jumat pekan ini," demikian bunyi pernyataan kepolisian Selandia Baru seperti dikutip AFP, Kamis (4/4).
Kepolisian disebut masih mempertimbangkan menjatuhkan dakwaan lainnya terhadap pria 28 tahun itu.

Tarrant telah didakwa dengan satu delik pembunuhan dalam sidang perdananya pada 16 Maret lalu, sehari setelah penembakan massal terjadi.

Dalam sidang tersebut, Tarrant dijatuhi satu dakwaan pembunuhan atas aksinya di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood pada 15 Maret lalu yang secara keseluruhan merenggut 50 nyawa dan melukai 50 orang lainnya.

Salah satu korban meninggal adalah warga Indonesia, yakni mendiang Lilik Abdul Hamid. Sedangkan WNI yang menjadi korban luka adalah Zulfirmansyah dan anaknya.

Pengadilan tak memberikan kesempatan bagi Tarrant untuk bebas dengan jaminan. Ia juga akan diadili tanpa didampingi pengacara sesuai keinginan.

[Gambas:Video CNN]

Aparat Selandia Baru memastikan Tarrant sangat rasional untuk mewakili dirinya sendiri dalam proses persidangan.

Tarrant mengakui dirinya sendiri sebagai penganut supremasi kulit putih. Dia menyiarkan aksi penembakannya secara langsung di Facebook.

Pria itu juga sempat mengunggah sejumlah pernyataan rasis dan manifesto di akun Twitter pribadinya sebelum beraksi.

Dia merupakan warga Australia yang diketahui tumbuh besar di Grafton. Tarrant kerap berpergian ke luar negeri selama satu dekade terakhir dan menetap di Dunedin, Selandia Baru, dalam beberapa tahun belakangan.
Tarrant diketahui menggunakan senapan serbu AR-15 serta shotgun dalam aksinya, dan sudah menyiapkan beberapa senjata lain. Polisi menyatakan sebenarnya Tarrant hendak melakukan aksinya di tiga masjid, tetapi berhasil dicegah aparat. (rds/ayp)