Trump Umumkan Pasukan Elite Iran Masuk Daftar Teroris

CNN Indonesia | Selasa, 09/04/2019 09:56 WIB
Trump Umumkan Pasukan Elite Iran Masuk Daftar Teroris Ilustrasi pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC). (ATTA KENARE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan memasukkan pasukan elite IranGarda Revolusi (IRGC), ke dalam daftar kelompok teroris. Ini adalah pertama kalinya AS menyematkan predikat itu terhadap bagian dari pemerintah yang diakui.

"Langkah yang dimotori oleh Kementerian Luar Negeri menyatakan Iran bukan hanya mendukung, tetapi Garda Revolusi turut aktif terlibat dalam mendanai dan mengusung terorisme sebagai bagian dari perangkat negara," kata Presiden AS, Donald Trump, saat menyampaikan pengumuman, seperti dilansir Associated Press, Selasa (9/4).

Menteri Luar Negeri, Mike Pompeo, menyatakan langkah itu diambil untuk meningkatkan tekanan kepada Iran dengan cara mengisolasi dan mengalihkan sejumlah sumber uang yang tadinya diklaim digunakan membiayai kegiatan terorisme di kawasan Timur Tengah. Di samping itu, AS juga ingin supaya Iran tidak terus-terusan menggoyang stabilitas region.


Pompeo mengklaim bukti-bukti aksi terorisme Iran ditarik jauh hingga dekade 1980-an. Yakni ketika terjadi serangan terhadap barak Korps Marinir AS di Beirut, Libanon pada 1983.
Pemerintah Iran menyatakan akan membuat perhitungan jika AS benar-benar menggolongkan pasukan Garda Revolusi sebagai kelompok teroris. Dewan Keamanan Nasional Iran mendeklarasikan Amerika Serikat sebagai negara sponsor terorisme.

Perselisihan antara AS dan Iran kembali mencuat setelah pada 2015 Trump memutuskan membatalkan perjanjian nuklir. Dia juga kembali menerapkan sanksi yang lebih keras terhadap Iran, dengan alasan negara itu tetap melanjutkan program pengembangan rudal jarak jauh.

Pada 2007, Kementerian Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap satuan khusus IRGC, Pasukan Quds, yang bertindak sebagai perwakilan militer Iran dalam wilayah konflik di luar negeri. Mereka menyatakan pasukan itu mendukung terorisme dan menjadi perangkat Iran untuk terlibat mendukung kelompok teroris dan pemberontak.

Dua tahun lalu, Panglima IRGC, Mohammad Ali Jafari, memperingatkan jika AS menggolongkan satuannya sebagai kelompok teroris, maka mereka akan menganggap seluruh pasukan AS di luar negeri seperti kelompok ISIS.

[Gambas:Video CNN]

Reaksi di dalam negeri AS terhadap polemik ini juga beragam. Senator dari Partai Republik, Ben Sasse, menyatakan jika hal itu terjadi maka menjadi langkah penting bagi AS untuk terus menekan Iran.

Sedangkan mantan Wakil Menteri Luar Negeri AS yang juga bekas ketua juru runding dengan Iran, Wendy Sherman, menyatakan dia cemas dengan dampak yang akan ditanggung jika AS mengambil langkah itu.

Pengaruh IRGC bukan cuma di dunia militer, tetapi juga termasuk di sektor ekonomi dan politik. Mereka bisa dibilang badan keamanan paling kuat di Iran.

Pasukan ini berkekuatan 125 ribu orang, terdiri dari matra darat, laut, dan udara. Mereka berada di bawah kewenangan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khameini.

IRGC juga bertanggung jawab terhadap program pengembangan rudal Iran. Mereka menyatakan mempunyai peluru kendali dengan jarak jelajah sampai 2000 kilometer, dan bisa menjangkau Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Hal ini membuat Iran melakukan tindakan yang sama, yakni menganggap seluruh pasukan AS di Timur Tengah dan dunia sebagai teroris. (ayp/ayp)