Seperti dilansir CNN, Kamis (11/4), Bashir lahir pada 1 Januari 1944. Dia memilih masuk dinas militer pada 1960.
Lihat juga:Didemo Besar-besaran, Presiden Sudan Mundur |
Setelah kembali dari perang, Bashir yang berpangkat kolonel mengorganisir sejumlah perwira untuk melakukan kudeta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setahun setelahnya sejumlah aparat polisi dan militer mencoba mengkudetanya, tetapi gagal. Dia lantas mengeksekusi 30 perwira diduga terlibat kudeta.
Pada pemilihan umum 1996, Bashir menang dengan meraih 75 persen suara. Empat tahun kemudian, dia kembali menang dengan meraih 85 persen suara.
Tiga tahun kemudian, pecah pemberontakan di Darfur, merupakan kawasan yang dihuni kelompok minoritas penganut Nasrani dan animisme. Dia dianggap membiarkan Milisi Janjawid yang pro pemerintah membunuh dan memperkosa warga.
Pada 2008, Mahkamah Kriminal Internasional mendakwa Bashir dengan tuduhan pembantaian dan kejahatan perang di Darfur. Namun, dia tidak pernah bisa diseret ke pengadilan.
[Gambas:Video CNN]
Pada pemilu 2015, Bashir menang dengan meraih 94 persen suara. Namun, kelompok oposisi memboikot hasil itu karena dianggap penuh kecurangan.
Sejak akhir 2018, unjuk rasa mendesak Bashir turun merebak di sejumlah kota di Sudan. Pada Februari lalu, Bashir menetapkan status darurat nasional, dan memerintahkan angkatan bersenjata membubarkan demonstrasi.
Kini, nasib Bashir seakan kembali berputar seperti pendahulunya. Kekuasaannya pun berakhir di tangan militer. (ayp)