LAPORAN DARI AFRIKA SELATAN

Menlu Afsel Harap Pemilu Indonesia Berjalan Bersih dan Adil

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Minggu, 14/04/2019 13:27 WIB
Menlu Afsel Harap Pemilu Indonesia Berjalan Bersih dan Adil Menteri Luar Negeri Afrika Selatan Lindiwe Sisulu mengungkapkan harapannya agar pemilihan umum Indonesia yang akan berlangsung pada 17 April mendatang berjalan aman. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)
Durban, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri Afrika Selatan Lindiwe Sisulu berharap pemilihan umum Indonesia pada 17 April mendatang berjalan aman, bersih, dan adi, serta calon presiden dan wakil presiden terbaik yang akan memenangkan gelaran pesta demokrasi tersebut.

"Kepada seluruh warga Indonesia, kalian semua akan menghadapi pemilu pekan depan. Kami berharap pemilu kalian berjalan adil, bersih, dan damai. Semoga kandidat yang terbaik yang menang," kata Sisulu kepada CNNIndonesia.com usai menjadi pembicara dalam kuliah tamu di Universitas KwaZulu-Natal, Durban, Jumat (12/4).

Warga Indonesia di Afrika Selatan telah melangsungkan pemungutan suara lebih dulu pada Sabtu (13/4) di Kedutaan Besar RI di Pretoria, sekitar 66,5 kilometer dari Johannesburg. Sedikitnya 254 WNI tercatat sebagai pemilih resmi di KBRI Pretoria.

Sementara itu, Sisulu mengatakan negaranya juga akan menggelar pemilu pada 8 Mei mendatang. Pemilu nanti merupakan yang keenam digelar Afrika Selatan sejak masa apartheid berakhir pada 1994 lalu.


Pemilu keenam ini, paparnya, akan menghadapkan empat kandidat presiden yakni sang petahana, Presiden Cyril Ramaphosa dari Partai Kongres Nasional Africa (ANC), Mmusi Maimane dari Democratic Alliance, Julius Malema dari Partai Economic Freedom Fighter (EFF), dan Mangosuthu Buthelezi (Inkatha Freedom Party (IFP).

Sisulu mengatakan masa kampanye di negaranya diwarnai kekhawatiran akan perpecahan menyusul sentimen xenophobia (sentimen anti-asing) yang muncul di kalangan warga lokal belakangan ini.

Pernyataan Sisulu itu merujuk pada penyerangan yang dilakukan warga lokal Afrika Selatan terhadap sejumlah warga asing yang telah menjadi warga negara itu di Durban sekitar akhir Maret lalu.

Sejumlah tempat tinggal warga asing lokal (foreign national) di pinggiran Sydenham, Durban, diserang warga lokal asli pada Selasa (26/3) lalu. Para pelaku menghancurkan rumah-rumah dan menyita barang para warga asing lokal yang tinggal di permukiman tidak resmi di kawasan itu.

Para penyerang disebut memerintahkan para warga asing kembali ke negara asal atau terancam akan menerima persekusi yang lebih buruk lagi.

Sejumlah korban mengaku bahwa para penyerang mengklaim mendapat dukungan dari Presiden Ramaphosa.

"Ini sungguh insiden yang sangat buruk yang dapat terjadi di antara masyarakat kita. Kami, terutama warga Afrika Selatan, tidak pernah menginginkan saudara-saudara kami mengalami kejadian seperti ini," ujarnya saat memberikan materi dalam kuliah tamu universitas tersebut.

"Apa yang terjadi di Durban menjadi keprihatinan kami secara menyeluruh. Meski insiden itu bisa dikategorikan sebagai sentimen xenophobia, kami tetap menganggap kejadian itu sebagai tindak kriminal."
(vws)