Serangan Udara Tewaskan Wakil Pimpinan ISIS di Somalia

CNN Indonesia | Senin, 15/04/2019 03:52 WIB
Serangan Udara Tewaskan Wakil Pimpinan ISIS di Somalia Ilustrasi (REUTERS/Rodi Said)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah serangan udara menewaskan wakil pemimpin kelompok ISIS yang ada di wilayah semi-otonom Puntland, Somalia. Dalam serangan itu, turut tewas seorang militan lainnya, seperti disebutkan seorang pejabat keamanan setempat, Minggu (14/4).

Seorang saksi mata mengatakan kendaraan 4x4 dihantam oleh beberapa rudal dari jarak 3 km di luar desa Xiriiro di perbukitan Qandala pada pukul 1 malam (10:00 GMT), Minggu (14/4).

"Serangan udara hari ini menewaskan Abdihakim Dhuqub, wakil pemimpin Negara Islam," kata menteri keamanan Puntland, Abdisamad Mohamed Galan, kepada Reuters.


Menurut PBB, Dhuqub membantu mendirikan sel pertama al-Ittihad al-Islamiya (AIAI). Sel ini menjadi awal dari berkembangnya al Shabaab, sebuah kelompok militan yang memerangi pemerintah nasional Somalia selama lebih dari satu dekade. Namun, ia lantas membelot ke ISIS.

Somalia telah terbelah oleh perang saudara dan militan Islam sejak 1991. Saat itu para panglima perang antar klan bekerjasama menggulingkan seorang diktator, namun mereka akhirnya saling berperang sendiri. Perang ini lebih banyak di wilayah selatan ketimbang utara, di mana Puntland berada.

"Beberapa rudal menabrak mobil Suzuki. Kemudian helikopter terbang di atas lokasi kejadian," Mohamed Iid, warga Xiriiro, mengatakan kepada Reuters. "Itu serangan udara yang memekakkan telinga. Kami mencapai tempat kejadian setelah helikopter pergi. Mobil itu benar-benar meleleh."

Matt Bryden, kepala kelompok cendikiawan Sahan Research yang berbasis di Nairobi, menganggap pembunuhan ini tidak memukul ISIS. Sebab, menurutnya kekuatan ISIS di Somalia relatif kecil yaitu antara 150-200 tentara saja.

"(Jika) Anda memperhitungkan bahwa mereka tidak pernah melakukan serangan teror besar meski telah beberapa tahun beroperasi, Anda pada dasarnya memiliki geng yang terjebak di padang pasir," katanya kepada Reuters melalui telepon.

"Hanya karena mereka disebut ISIS, itu tidak menjadikan mereka ancaman yang nyata." (Reuters/eks)