Kantor Kepala Staf Gabungan Korea Selatan dalam keterangan resmi seperti dilansir Reuters mengatakan rudal-rudal ini terbang di ketinggian 70 km hingga 200 km.
Kantor Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan pihaknya sedang melakukan analisis bersama Amerika Serikat atas peluncuran roket balistik kali ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:FOTO: Badai Fani Menyapu Pesisir Timur India |
Saat itu, Korut tengah membangun kekuatan nuklirnya. Sebelumya Korut baru merampungkan uji coba sistem senjata taktis.
"Nampaknya jelas jika Korea Utara marah dengan sikap kurang fleksibel yang ditunjukkan pemerintahan Trump dalam meringankan sanksi nuklir, tetapi justru tetap berkeras memberikan tekanan," ungkap Harry Kazianis di Pusat Kepentingan Nasional AS.
Namun, kedua pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri program nuklir Korut karena ketidaksepakatan mengenai senjata dan pemberian sanksi. (reuters/evn)