Dua orang sumber yang dekat dengan presiden mengonfirmasi kabar tersebut kepada Reuters pada Rabu (24/4).
Permintaan ini muncul di tengah perselisihan di tengah pemerintahan Sri Lanka yang mengaku gagal mengantisipasi serangan bom paling parah dalam sepuluh tahun terakhir tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, menuding ada pihak-pihak yang sengaja menyembunyikan informasi peringatan ancaman serangan oleh kelompok Zahran.
Menteri Badan Usaha Milik Negara, Lakshman Kiriella, mengatakan bahwa laporan ancaman serangan teror di sejumlah gereja dan hotel itu diterima dari intelijen India pada 4 April lalu.
[Gambas:Video CNN]
Tiga hari kemudian, Sirisena menggelar rapat Dewan Keamanan karena dia bertanggung jawab dalam bidang itu. Namun, kata Kiriella, informasi itu justru tidak disebarkan ke pejabat lain.
Informasi itu kemudian menyebar di kalangan aparat keamanan pada 11 April, tapi tidak disikapi secara serius.
Wickremesinghe mengaku tidak diajak rapat atau diberi laporan soal potensi ancaman itu.
"Seseorang sengaja mengendalikan informasi ini. Dewan Keamanan sudah bermain politik. Ini harus diusut," kata Kiriella. (has)