Bau busuk yang menyengat tercium dari kamar mayat sejumlah rumah sakit di Kolombo, Negombo, dan Baticaloa setelah menerima ratusan jasad korban serangan beruntun pada 21 April lalu itu.
Hingga akhir pekan lalu, ahli forensik berhasil mengidentifikasi identitas 115 korban tewas dari total 257 jasad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu menjadi alasan jumlah korban tewas akibat serangan mematikan itu sempat dikoreksi. Semula, kepolisian mengatakan ada 359 korban tewas dan mengoreksinya menjadi 253 orang. Polisi kemudian meralat lagi jumlah tersebut menjadi 257 orang pada pekan ini.
"Dalam satu tas ada dua bagian wajah, satu pipi dengan telinga, satu dengan kulit kepala dan telinga. Itu bisa bagian dari tubuh dua orang yang berbeda," ucap Kepala Institut Kedokteran Forensik dan Toksikologi, Ajith Tennakoon, kepada AFP, Selasa (7/5).
"Salah satu prosedur yang tepat dalam menangani jenazah korban tewas adalah dengan mengidentifikasi identitas mereka sebagai bentuk memberi rasa hormat dan martabat," kata Tennakoon.
Tennakoon mengatakan sekecil apa pun petunjuk yang didapat sangat membantu rekonstruksi jenazah. Petunjuk-petunjuk itu bisa berupa perhiasan yang dikenakan, potongan pakaian, hingga bekas luka pada tubuh korban.
Jika memungkinkan, ahli patologi forensik juga memeriksa gigi dan sidik jari sebagai alternatif dalam mengidentifikasi jenazah. Meski begitu, tes DNA masih menjadi cara yang paling diandalkan dalam memetakan identitas para korban tewas tersebut.
[Gambas:Video CNN]
Selain berjasa mengidentifikasi para korban tewas, dokter forensik juga bisa berperan sebagai penyelidik. Mereka mungkin menemukan sejumlah petunjuk yang dapat membantu identifikasi pelaku penyerangan hingga jenis bahan peledak yang digunakan dalam serangan tersebut.
Sebagai contoh, Tennakoon mengeluarkan sebuah kantong plastik transparan dari lacinya yang berisi sebuah bola timah kecil. Ia menyebut bola tersebut digunakan para pelaku teror dalam bahan peledak untuk memaksimalkan kerusakan.
"Kami juga harus membantu menyelidiki kejahatan, sebuah bencana yang dibuat umat manusia," katanya. (rds/has)