"Saudi Aramco menutup sementara pipa minyak untuk mengevaluasi kondisinya," ujar Menteri Energi Saudi, Khalid al-Falih, sebagaimana dikutip AFP, Selasa (14/5).
Falih menjelaskan bahwa penutupan jalur pipa besar ini dilakukan setelah dua stasiun pompa minyak Saudi menjadi target serangan drone Houthi pada Selasa pagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Falih mengatakan mengatakan bahwa insiden ini adalah "aksi terorisme yang tidak hanya menargetkan kerajaan, tapi juga keamanan pasokan minyak dunia dan perekonomian global."
Menanggapi kecaman Saudi, juru bicara Houthi, Mohammed Abdulsalam, mengatakan bahwa serangan tersebut "adalah respons terhadap agresor yang terus melakukan genosida" terhadap warga Yaman.
"Kami mampu mengeksekusi operasi unik dalam skala lebih besar dan luas di jantung negara musuh," katanya.
Saudi turun tangan dalam perang di Yaman sejak 2015 lalu, ketika Houthi mulai menguasai Istana Kepresidenan di Sanaa.
[Gambas:Video CNN]
Saat itu, Presiden Yaman, Abd-Rabbu Mansour Hadi, kabur meminta pertolongan ke Saudi dan sempat bersembunyi di sana. Saudi lantas memutuskan untuk melakukan serangan udara ke wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman.
Merujuk pada laporan sejumlah lembaga pemantau, perang yang pecah sejak 2015 itu hingga kini sudah merenggut lebih dari puluhan ribu nyawa, sekitar 17 ribu di antaranya adalah warga sipil. (has)