Guaido, yang juga telah mendeklarasikan diri sebagai presiden interim Venezuela, mengatakan pasukan keamanan rezim Maduro menghalangi sejumlah anggota Majelis Nasional untuk memasuki gedung.
Ia mengatakan kantornya telah "diduduki secara militer" oleh pasukan keamanan termasuk Garda Nasional dan badan intelijen SEBIN. Kedua pasukan itu selama ini dikenal sebagai "pasukan yang brutal, tapi tidak meyakinkan."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mahkamah Agung, yang berada di kubu Maduro, juga telah mencabut kekebalan hukum 14 anggota Majelis Nasional akibat terlibat demonstrasi besar-besar untuk menuntut pergantian rezim itu.
Majelis Nasional merupakan satu-satunya institusi pemerintah Venezuela yang dikuasai oposisi. Guaido menganggap Majelis Nasional sebagai satu-satunya "badan sah yang diakui di seluruh dunia."
"Besok kami akan berada di sini untuk menggelar sesi rapat lagi. Kami akan berkumpul kembali dan membiarkan rezim memutuskan apakah ingin melanjutkan tindakannya yang berarti bunuh diri secara politik," kata Guaido seperti dikutip AFP.
Aparat keamanan terus meluncurkan tindakan keras terhadap oposisi setelah Guaido menggagas demo "pemberontakan" pada 1 Mei lalu.
[Gambas:Video CNN]
Politikus 35 tahun itu mendapat dukungan dari sejumlah anggota militer yang membelot dari Maduro dalam protes yang berakhir ricuh di beberapa kota itu.
Sebanyak lima orang tewas dan lebih dari 200 orang ditangkap akibat demonstrasi tersebut. Wakil Ketua Majelis Nasional, Edgar Zambrano, juga ditangkap SEBIN karena dituduh melakukan "pengkhianatan, konsprirasi, dan pemberontakan sipil."
Sementara itu, sejumlah anggota parlemen lainnya dilaporkan masih berlindung di misi diplomatik negara asing yang berada di Venezuela. (rds/has)