Seperti dilansir The Guardian, Selasa (28/5), perundingan antara kubu koalisi sayap kanan dan religius yang dipimpin Netanyahu masih alot dan malah menemui jalan buntu. Ganjalan utama datang dari Partai Yisrael Beitenu yang beraliran ultranasionalis sekuler pimpinan Avigdor Lieberman, serta partai beraliran Ultra Ortodoks.
Lieberman yang menyebabkan Israel menggelar pemilu lebih cepat karena mencabut mandat atas pemerintahan Netanyahu. Jika hal ini terus terjadi, Netanyahu harus mencari mitra koalisi baru dengan faksi politik lainnya, yang kemungkinan besar sulit terwujud.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Netanyahu Dukung Trump Lawan 'Agresi' Iran |
Meski sama-sama berpaham politik sayap kanan, ternyata Bibi, panggilan akrab Netanyahu, selalu berbeda pandangan dari Lieberman. Baik dalam soal kebijakan dalam negeri dan urusan dengan Palestina.
Bibi juga didemo oleh puluhan ribu warga Israel di Tel Aviv, untuk memprotes langkah parlemen yang ingin membuat aturan yang bisa menjadikannya kebal hukum. Padahal, Bibi saat ini sedang terjerat sejumlah kasus dugaan korupsi.
Netanyahu sudah bolak-balik diperiksa kepolisian sejak skandal korupsi terungkap pada 2017 silam.
Pada Februari lalu, Jaksa Agung Israel bahkan telah mengumumkan rencana untuk mendakwa Netanyahu dengan dugaan penipuan dan penyuapan.
[Gambas:Video CNN]
Meski begitu, di bawah konstitusi, Netanyahu memang tidak berkewajiban untuk mundur jika mendapat dakwaan. (ayp/ayp)