Huru-hara politik memang tengah melanda Hong Kong dalam beberapa tahun terakhir. Penyebabnya adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap usaha Beijing yang mencoba 'merampas' kebebasan masyarakat.
Namun, kekerasan yang terjadi dalam unjuk rasa menolak RUU Ekstradisi pada Rabu (12/6) adalah eskalasi konflik yang belum pernah terjadi sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sing menyoroti penggunaan gas air mata dan peluru karet oleh aparat yang menandakan tingkat keparahan aksi unjuk rasa.
Sing mengatakan, aksi unjuk rasa menolak RUU Ekstradisi mencerminkan adanya kesenjangan yang tinggi dalam kepercayaan masyarakat Hong Kong terhadap pemerintah.
"Mereka semakin percaya bahwa pemerintah Hong Kong adalah sekelompok boneka yang melayani kepentingan Beijing," ujar Sing.
Bentrokan pecah selama berjam-jam setelah puluhan ribu orang menyita jalur-jalur arteri pada waktu-waktu sibuk di pagi hari dan mengepung gedung parlemen. Mereka memaksa anggota parlemen untuk menunda pembahasan RUU Ekstradisi.
"Protes hari ini terjadi semata-mata karena Carrie Lam [Pemimpin Hong Kong pro-Beijing] mengabaikan suara 1,03 juta masyarakat dan menolak menunda pembahasan RUU Ekstradisi," ujar salah seorang demonstran.
Alih-alih menanggapi atau mempertimbangkan seruan protes warga, Lam malah menilai aksi unjuk rasa sebagai kerusuhan yang terorganisir.
Sebagaimana diketahui, parlemen Hong Kong tengah menggodok RUU Ekstradisi yang memungkinkan seorang tersangka bisa diadili di luar negeri, termasuk di China.
Beleid ini menyulut amarah warga lantaran khawatir akan sistem pengadilan China yang kerap bias dan dipolitisasi.
[Gambas:Video CNN] (asr/asr)