"Drone itu melakukan operasi intelijen dan melanggar hukum internasional," kata Duta Besar Iran untuk PBB, Majid Takht Ravanchi, seperti dilansir AFP, Jumat (21/6).
Korps Garda Revolusi (IRGC), menyatakan telah menembak jatuh drone pengintai RQ-4 Global Hawk di selatan Provinsi Hormozgan, tepatnya di dekat distrik Kouhmobarak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesawat tak berawak itu mampu beroperasi selama 30 jam lebih untuk mengumpulkan gambar citra satelit dengan resolusi tinggi dalam setiap keadaan cuaca.
"Meskipun Republik Islam Iran tidak ingin berperang, kami tetap berhak mengambil langkah apapun terhadap sikap berbahaya yang melanggar wilayah kedaulatan kami. Ini bukan pertama kalinya Amerika Serikat bersikap provokatif terhadap wilayah kedaulatan Iran," kata Ravanchi.
AS dan sekutunya di Timur Tengah, Saudi, menyalahkan Iran atas kedua insiden tersebut. Teheran membantah telah bertanggung jawab atas sabotase itu.
Sejak ketegangan kedua negara memanas, AS telah mengirim pasukan tambahan, termasuk kapal induk dan dua pesawat pengebom B-52 ke Timur Tengah.
Meski begitu, Trump menegaskan Negeri Paman Sam tak berniat untuk berperang dengan Iran.
[Gambas:Video CNN]
Namun, pengkritik Trump menilai kebijakan kerasnya terhadap Iran seperti penjatuhan sanksi, pengabaian perjanjian nuklir, hingga pengerahan pasukan tambahan ke Timur Tengah, membuat peluang perang di antara keduanya semakin besar. (ayp/ayp)