Seperti dilansir AFP, Selasa (25/6), Pengadilan Preah Sihanouk menyatakan sang pemilik gedung yang merupakan warga Kamboja dijerat sangkaan dugaan melakukan pembunuhan yang tidak disengaja, menyebabkan cedera secara tak sengaja dan memperburuk keadaan yang menyebabkan kecelakaan.
Sementara, seorang pemborong serta sejumlah pengelola bangunan yang seluruhnya warga China didakwa dengan konspirasi melakukan kejahatan. Keempat tersangka itu saat ini ditahan atas perintah hakim praperadilan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga Senin (24/6) kemarin, tim penyelamat telah menemukan dua korban selamat dan sejumlah korban terakhir lainnya. Di hari yang sama, ada 26 pekerja lain yang mengalami luka-luka.
Hingga kini belum ada konfirmasi dari pihak berwenang terkait penyebab runtuhnya gedung.
Proyek konstruksi bangunan itu berada di Sihanoukville, sebuah kota resor pantai yang baru-baru ini mulai dibangun setelah menerima kucuran dana besar-besaran dari China.
Sejumlah pengusaha asal China diketahui telah menanam modal miliaran dolar Amerika Serikat di beberapa sektor seperti pariwisata, perumahan, pertanian, pelabuhan dan pembangunan kasino di Sihanoukville.
[Gambas:Video CNN]
Banyak pula gedung pencakar langit dan properti besar lain di ibukota Phnom Penh, Sihanoukville dan Pulau Koh Kong yang didanai oleh beberapa perusahaan asal China.
Kendati demikian, proses pembangunan itu bukan tanpa kritik. Sejumlah pihak menyatakan pengaruh para pemodal China itu terlampau kuat serta mengakibatkan Kamboja terlalu bergantung pada bantuan dan investasi dari Negeri Tirai Bambu.
Di sisi lain, proyek itu juga mengharuskan mempekerjakan sejumlah pekerja asing dari China. Hal itu memantik pertikaian dengan warga setempat karena dianggap menutup kesempatan bagi mereka untuk bekerja, dan juga perbedaan upah antara pekerja lokal dan asing.