"Sebagaimana kita ketahui, terdapat negara-negara Arab yang memang tunduk terhadap ajakan (AS) tersebut (untuk menghadiri konferensi) dan ini merupakan sebuah tanda-tanda kelemahan negara Arab," kata Al Shun dalam konferensi pers di Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, Rabu (26/6).
Dalam kesempatan itu, Al Shun kembali menegaskan sikap Palestina yang menolak proposal damai AS tersebut. Mengutip pernyataan Presiden Mahmoud Abbas, Al Shun menganggap proposal AS itu tidak pantas disebut sebagai rencana perdamaian lantaran berpihak pada Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Konferensi di Manama akan menghasilkan poin-poin rekomendasi yang hanya akan menyulitkan dan membuat rakyat Palestina lebih sedih lagi. Ini tidak dimulai dari niat yang tulus, tapi terdapat banyak kepentingan dari pengusaha AS dan Israel," papar Al Shun.
Pernyataan itu diutarakan Al Shun sehari setelah penasihat sekaligus menantu Trump, Jared Kushner, merilis proposal damai gagasan AS di Manama. Kali ini, AS mengungkap rencana mereka terkait penyelesaian konflik Palestina-Israel yang berfokus pada pembangunan ekonomi.
Dalam proposal itu, AS berencana mengumpulkan dana US$50 miliar atau Rp708 triliun bagi Palestina dan negara-negara tetangganya di kawasan. Gedung Putih mengatakan penggalangan dana ratusan triliun itu akan dilakukan untuk satu dekade ke depan.
Selain menggalang dana, Gedung Putih juga berencana menggandakan produk domestik bruto Palestina itu dalam satu dekade terakhir. Washington juga menargetkan dapat menurunkan tingkat pengangguran Palestina yang tinggi sebanyak satu digit dengan menciptakan jutaan lapangan kerja baru bagi rakyat Palestina.
[Gambas:Video CNN]
Selain AS dan Bahrain, konferensi itu dihadiri oleh delegasi dari Yordania, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Selain delegasi pemerintah, pengusaha-pengusaha dari negara-negara terkait juga ikut hadir dalam pertemuan itu. (rds/ayp)