Jauh sebelum menjadi sorotan dunia, perhelatan ini sebenarnya dimulai dengan pertemuan kecil antara 19 negara dan Uni Eropa yang rutin sejak 1999. Mereka mengusung isu global, termasuk perekonomian.
Pada mulanya, pertemuan yang disebut Group of Twenty atau G20 ini hanya dihadiri oleh menteri keuangan negara anggota dan petinggi lembaga keuangan dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara-negara tersebut merepresentasikan 85 persen PDB global dan dua pertiga populasi dunia. Karena itu, isu ekonomi menjadi primadona dalam pertemuan ini.
Para anggota secara bergiliran menjadi ketua atau presiden setiap tahunnya. Presiden G20 bertanggung jawab untuk mengatur pertemuan tinggi dan rapat kecil lainnya selama satu tahun.
Jepang menjadi presiden G20 tahun 2019 sehingga pertemuan digelar di Osaka pada 28-29 Juni ini. Tema besar KTT G20 kali ini setidaknya akan membahas dua isu penting, yaitu inovasi di bidang digital ekonomi dan upaya dalam mengatasi kesenjangan.
Namun, masalah perdagangan global terutama soal perang tarif antara AS-China diprediksi akan menjadi fokus pertemuan selama dua hari itu.
Sebab, dikutip AFP, pertemuan awal menteri keuangan negara anggota pada awal Juni ini menyimpulkan ketegangan perdagangan "semakin meningkat."
[Gambas:Video CNN]
Presiden Joko Widodo bersama delegasinya akan mewakili Indonesia dalam pertemuan ini. Jokowi akan mengangkat isu pengembangan ekonomi digital, artificial intelligence, penanganan kesenjangan, hingga kualitas infrastruktur dalam KTT tersebut.
KTT G20 menjadi penting bagi Indonesia. Selain bisa meningkatkan pengaruh di mata internasional, forum G20 juga membuat Indonesia bisa berkontribusi lebih dalam menata struktur finansial global.
Sebagai negara anggota G20, Indonesia dinilai memiliki kesempatan lebih baik dari negara berkembang lainnya untuk mengatasi masalah keuangan global.
Peningkatan GDP dan kontribusi aktifnya dalam kerja sama perdagangan regional dianggap membantu Indonesia "lebih dipandang" di kancah internasional. (rds/has)