Seperti dilansir Reuters, Selasa (2/7), rudal itu jatuh di wilayah Vouno, sekitar 20 kilometer dari Ibu Kota Nicosia yang dikuasai pemerintah Siprus Yunani. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu karena misil itu jatuh di lahan kosong perbukitan dan menyebabkan tumbuhan di sekitar lokasi kejadian terbakar.
Menurut Ozersay, para tentara yang memeriksa tidak menemukan kawah yang biasanya terbentuk akibat tumbukan rudal. Dia menduga rudal itu terlebih dulu meledak di udara kemudian serpihannya jatuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peristiwa ini terjadi untuk pertama kali di Siprus. Hal ini membuat mereka terimbas konflik yang terjadi di Timur Tengah, meski terpisah lautan. Negara itu juga berada sebelah barat Suriah.
Menurut analis militer Siprus Yunani, Andreas Pentaras, dari serpihan itu dia memperkirakan jenis rudal itu adalah S-200 buatan Rusia. Jarak tempuh maksimal misil itu sekitar 410 kilometer.
"Dari gambar potongan sayap rudal, terlihat tulisan Rusia, jadi itu diduga buatan Rusia. Suriah menggunakan persenjataan dari Rusia," kata Pentaras yang merupakan pensiunan jenderal.
Menurut Pentaras ada kemungkinan rudal itu meleset karena terkena perangkat pengacak sinyal. Sedangkan analis geopolitik Siprus lainnya, Zenonas Tziarras, tidak terlalu yakin rudal yang jatuh itu adalah S-200. (ayp)