Seperti dilansir AFP, Selasa (2/7), para pengunjuk rasa yang mayoritas muda-mudi dengan mengenakan pakaian hitam-hitam menerobos barikade polisi yang sejak pagi menjaga gedung pemerintahan di kompleks Admiralty, yang terletak di pusat kota. Mereka merusak kaca lantas mencorat-coret bagian dalam gedung.
Pemimpin administratif Hong Kong, Carrie Lam, dalam jumpa pers pagi hari waktu setempat menyatakan mengutuk aksi para pengunjuk rasa. Hal itu juga ditentang oleh Kepala Kepolisian Hong Kong, Stephen Lo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aksi kekerasan yang dilakukan para demonstran sudah jauh dari batas-batas menyampaikan pendapat secara damai," kata Stephen.
Bentrokan antara demonstran dan polisi di Hong Kong. (REUTERS/Thomas Peter) |
"Kami tahu ini melanggar hukum, tapi kami tidak punya pilihan lain," kata Cheung.
"Kami sudah berdemo, menduduki, tetapi pemerintah tetap diam. Kami harus memperlihatkan kepada pemerintah kami tidak akan diam dan tak berbuat apapun," kata pengunjuk rasa lainnya, Joey (26).
Para demonstran menyatakan aksi ini sebagai bentuk penolakan mereka terhadap pemerintah China yang dianggap hendak membatasi kebebasan dan budaya demokrasi Hong Kong. Mereka juga menuntut untuk bisa memilih secara bebas calon pemimpin wilayah itu di masa mendatang.
[Gambas:Video CNN]
Gerakan pro demokrasi Hong Kong tahun ini menjadi yang cukup keras, setelah aksi unjuk rasa menolak pembahasan Rancangan Undang-Undang Ekstradisi berakhir dengan bentrokan. Sejumlah aktivis juga masih ditahan polisi. (ayp)
Bentrokan antara demonstran dan polisi di Hong Kong. (REUTERS/Thomas Peter)