"Kedua pejabat itu harus diadili atas tindakan mereka yang mengabaikan laporan untuk mencegah serangan pada 21 April," tulis de Livera dalam surat yang ditujukan kepada pelaksana tugas kepala kepolisian Sri Lanka, Chandana Wickramaratne, seperti dilansir AFP, Selasa (2/7).
Jaksa de Livera juga meminta Wickramaratne segera menangkap Jayasundara dan Fernando, kemudian menginterogasi mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan Jayasundara dipaksa non-aktif oleh Sirisena, setelah sempat menolak diminta bertanggung jawab karena gagal mencegah serangan keji itu. Jaksa de Livera juga menyatakan akan menyeret sembilan pejabat tinggi kepolisian lainnya yang dianggap bertanggung jawab mencegah aksi teror.
Jayasundara juga menolak keputusan Sirisena yang memaksanya non-aktif, dan menggugat ke Mahkamah Agung. Sampai saat ini dia juga masih tinggal di rumah dinas.
Serangan teror diduga dilakukan oleh kelompok Jemaah Tauhid Nasional (NTJ) pada 21 April itu merenggut nyawa 258 orang dan melukai sekitar 500 orang. Korban terdiri dari 45 negara berbeda.
[Gambas:Video CNN]
Pemerintah dan badan intelijen Sri Lanka (SIS) dilaporkan sudah diberi tahu rencana aksi keji itu oleh intelijen India, tetapi tidak dihiraukan. (ayp)