Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, mengatakan bahwa delegasi AS dan Jerman melontarkan tuduhan terhadap China itu dalam rapat DK PBB soal situasi di Asia Tengah pada Selasa (2/7).
"AS dan Jerman telah menyimpang dari pertemuan ini dan membuat tuduhan tidak berdasar tentang kebijakan China di Xinjiang," ujar Geng dalam jumpa pers di kantornya, Rabu (3/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
China memang sedang menuai kritik karena diduga melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis Uighur.
Dugaan penindasan terhadap etnis Uighur mencuat setelah kelompok pemerhati hak asasi manusia (HAM), Amnesty International, pada September 2018 melaporkan pemerintah China menahan sekitar satu juta orang etnis minoritas tersebut di penampungan layaknya kamp konsentrasi.
Berdasarkan kesaksian sejumlah warga Xinjiang, aparat China melakukan penahanan secara sewenang-wenang sejak 2014 silam.
Tak hanya itu, otoritas China juga disebut mengekang hak-hak masyarakat Xinjiang untuk beribadah.
[Gambas:Video CNN]
Otoritas lokal bahkan disebut melarang masyarakat Xinjiang melakukan aktivitas keagamaan bersama di ruang publik, termasuk sekolah.
China berulang kali membantah seluruh tuduhan diskriminasi itu. Beijing juga mengatakan kamp-kamp penampungan Uighur itu merupakan "pusat pelatihan vokasi."
Di sana, para etnis Uighur diklaim diajarkan bahasa Mandarin dan sejumlah keterampilan lainnya sebagai bentuk upaya memberdayakan etnis minoritas tersebut. (rds/has)