Melalui pernyataan pada Rabu (3/7), juru bicara Boeing menyatakan santunan miliaran dolar itu dimaksudkan untuk membantu biaya pendidikan dan biaya hidup keluarga serta kerabat korban kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX.
Sebagian korban kecelakaan Boeing 737 MAX merupakan pekerja kemanusiaan dan staf kementerian yang berkaitan dengan program lingkungan, kesehatan, dan makanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya Oktober 2018, pesawat jenis sama yang digunakan dalam penerbangan Lion Air JT610 jatuh di Laut Jawa dan menewaskan 189 penumpang serta awak yang diangkut.
Namun, dalam pernyataan pada Rabu itu, perusahaan manufaktur pesawat asal Amerika Serikat tersebut tidak menjelaskan otoritas atau organisasi yang akan menerima santunan. Jumlah santunan tersebut juga lebih rendah dari tuntutan yang diajukan para keluarga korban.
Boeing juga menjadi subjek penyelidikan investigasi kriminal Kementerian Kehakiman AS, belum lagi ratusan tuntutan hukum lainnya dari keluarga korban.
Seorang perwakilan kerabat korban kecelakaan Lion Air, Anton Sahadi, mengatakan keluarga menghargai pemberian santunan yang diberikan pihak Boeing tersebut.
Namun, Anton menegaskan keluarga tidak akan menghentikan tuntutan hukum terhadap perusahaan.
"Kami akan terus memperjuangkan hak-hak kami di pengadilan. Boeing melakukan ini (memberikan santunan) untuk membangun citra mereka kembali," kata Anton.
[Gambas:Video CNN]
Senada dengan Anton, Justin Green, seorang pengacara yang mewakili beberapa korban kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines, mengatakan bahwa bantuan itu tidak akan mempengaruhi strategi kliennya di ruang sidang.
"Jika uang dihabiskan untuk memajukan cita-cita korban kecelakaan pesawat, itu akan menjadi pengeluaran yang dihabiskan dengan baik," tutur Green.
"Namun, itu tidak akan mempengaruhi strategi kliennya di ruang sidang. Apa yang sebenarnya ingin diketahui keluarga adalah mengapa kecelakaan bisa terjadi. Mungkinkah sebenarnya itu bisa dihindari?" katanya. (rds/has)