Kepolisian London menemukan jasad Khalid tergeletak di tempat tinggalnya di area Knightsbridge sekitar pukul 10.30 waktu lokal.
Awalnya, kepolisian belum mengetahui identitas pria tersebut, namun media Inggris mengatakan pria itu adalah Khalid.
Lihat juga:Drama Istri Emir Dubai Kabur ke London |
Hingga kini, kepolisian London belum bisa menjelaskan penyebab kematian Khalid yang berprofesi sebagai perancang busana itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sang ayah, Sheikh Sultan bin Mohammed Al Qasimi, mengumumkan kematian Khalid melalui akun Instagramnya. Sheikh Sultan juga mengunggah sejumlah gambar saat proses menyalatkan dan pemakaman Khalid.
[Gambas:Instagram]
Khalid merupakan anak laki-laki terakhir Sheikh Sultan yang masih hidup. Ia pindah ke London sejak berumur 9 tahun.
Berdasarkan informasi di situs label fesyennya, Qasimi, Khalid mengenyam pendidikan di Tonbridge School dan mendapat beasiswa di University College London.
Setelah lulus dari Sekolah Seni Central Saint Martins di London, Khalid meluncurkan label fesyennya itu pada 2008.
"Dunia desain telah kehilangan seorang filsuf dan seniman hebat dan kami meminta privasi keluarga, tim, dan label dihormati pada saat yang sulit ini," bunyi pernyataan Qasimi.
Semasa hidupnya, Khalid menganggap label fesyennya itu sebagai caranya untuk "membahas apa yang terjadi di sekitar kita, baik itu politik atau ekonomi."
Khalid juga mengeluarkan beberapa desain terbarunya baru-baru ini, termasuk kaus dengan tulisan bahasa Arab yang artinya "Press. Don't Shoot". Kaus itu dijual seharga US$144 atau Rp2 juta.
Khalid memiliki tiga saudara perempuan, satu saudara tiri perempuan, dan satu saudara tiri laki-laki. Sang kakak, Sheikh Mohammed bin Sultan Al Qasami, tewas karena overdosis heroin pada 1999 lalu.
Sheikh Sultan menemukan Sheikh Mohammed tewas tergeletak di tempat tinggalnya di Sussex, Inggris.
[Gambas:Video CNN] (rds/dea)