"Dua puluh empat orang dipastikan tewas dalam tiga hari. Namun, jumlah korban masih dapat bertambah hari ini," ujar seorang pejabat dari Provinsi Hela, William Bando, kepada AFP.
Menurut Bando, pertikaian antarsuku semacam ini memang sudah biasa terjadi di Papua Nugini. Namun, perkelahian kali ini sangat mengkhawatirkan karena pihak yang terlibat mulai menggunakan senjata otomatis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hari ini adalah salah satu hari paling sedih dalam hidup saya. Banyak anak dan ibu tak bersalah tewas di Desa Munima dan Karida, daerah pemilihan saya," ucap Marape.
Dalam salah satu serangan di Karida, para pihak bertikai dilaporkan menggunakan parang untuk membunuh enam perempuan dan delapan anak dalam pertikaian yang berlangsung selama 30 menit.
"Para pelaku kriminal, waktu kalian sudah habis. Saya tak takut menggunakan tindakan terkuat berdasarkan hukum kepada kalian," ucap Marape.
Namun, Marape tak menjabarkan lebih lanjut tindakan yang dimaksud. Ia hanya mengklaim bahwa jumlah personel yang ada sekarang tak memadai.
"Bagaimana bisa satu provinsi berpopulasi 400 ribu orang hidup di bawah hukum, tapi jumlah polisi hanya 60 orang. Operasi militer dan kepolisian hanya bisa untuk perbaikan," katanya. (has)