Dalam pidato di Kantor Pemerintahan Thailand pada Selasa (9/7), Prayuth menegaskan bahwa ia tak akan menggunakan Pasal 44 konstitusi yang memberikan kekuasaan kepadanya untuk menjalankan pemerintahan usai kudeta.
Dengan keputusan ini, berakhir pula pembatasan pemberitaan di media. Prayuth juga memastikan akan melimpahkan kasus warga sipil dari pengadilan militer ke sipil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia kemudian menjabarkan sejumlah aturan yang masih akan berlaku, di antaranya tentara dan kepolisian berhak melakukan penggeledahan, penyitaan, dan penahanan orang atas nama keamanan nasional.
Keputusan ini pun membuat sejumlah pengamat ragu akan model demokrasi yang akan dibawa Prayuth dalam pemerintahan barunya.
"Militer masih memegang kuasa untuk menahan orang secara signifikan. Ini akan membentuk iklim ketakutan," kata Yingcheep Atchanont, manajer kelompok pemantau hukum Thailand, iLaw. (has)