"Thailand saat ini adalah negara demokratik penuh dengan sistem monarki konstitusional, beserta parlemen yang dipilih rakyat," kata Prayut dalam pidato yang disiarkan secara nasional dari ibu kota Bangkok, seperti dilansir Reuters, Selasa (16/7).
Aturan itu sudah dikritik habis jauh-jauh hari oleh politikus sipil karena dianggap memberi ruang bagi militer untuk terlibat dalam politik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Prayut, militer terpaksa turun tangan mengambil alih kekuasaan dengan alasan setelah pemilihan umum 24 Maret 2014 terjadi gejolak politik yang cenderung mengarah kepada kerusuhan. Menurut dia militer harus bersikap mengakhiri aksi unjuk rasa selama enam bulan yang diikuti oleh bentrokan.
"Seluruh permasalahan akan diselesaikan dengan cara demokratis tanpa perlu melibatkan kekuatan lain," ujar Prayut.
Pekan lalu Prayut menggunakan kewenangan junta militer untuk mencabut segala larangan pemberitaan di seluruh media massa setempat. Dia juga menghidupkan kembali pengadilan sipil dan mengalihkan perkara-perkara pidana yang sebelumnya disidangkan di mahkamah militer. Namun, dia tetap membiarkan aparat keamanan berwenang menangkap tanpa syarat dan menggeledah tanpa izin.
Raja Thailand, Rama X Vajiralongkorn, pekan lalu merestui pemerintahan Prayut yang dibentuk dari koalisi 19 partai. Meski demikian, posisi pemerintah bukan mayoritas di parlemen.
Selama 15 tahun belakangan, sudah terjadi dua kali kudeta di Thailand. Pertarungan politik yang terjadi adalah kelompok oposisi sipil yang meraih dukungan dari penduduk di kalangan pedesaan melawan rezim yang didukung oleh kerajaan dan militer. (ayp/ayp)