Sebagai pendukung setia Johnson, Presiden Donald Trump menjadi pemimpin dunia yang paling cepat mengucapkan selamat kepada sang perdana menteri baru.
"Selamat kepada Boris Johnson karena sudah menjadi perdana menteri baru untuk Inggris. Dia akan bekerja dengan hebat!" kicau Trump melalui akun Twitter pribadinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump memang selalu mengaku sebagai "penggemar" Johnson. Menurutnya, Johnson dapat menyelamatkan Inggris dari "bencana" yang dibawa Perdana Menteri Theresa May saat melakukan negosiasi keluar dari Uni Eropa atau Brexit.
"Dia memang sangat berbeda, tapi mereka juga bilang saya berbeda. Kami sangat akrab. Saya rasa kami akan memiliki hubungan yang baik," ujar Trump.
Layaknya Trump, Johnson juga kerap menuai kritikan di dalam negeri karena pendekatan ekstremnya, termasuk dalam urusan negosiasi Brexit.
Setelah terpilih, Johnson pun harus langsung menentukan arah Inggris menjelang tenggat negosiasi Brexit pada 31 Oktober mendatang.
"Selamat kepada Boris Johnson karena terpilih sebagai perdana menteri. Saya menanti dapat bekerja sama baik dengannya," ucap ketua Komisi Eropa, Ursula von der Leyen.
Senada dengan von der Leyen, negosiator Uni Eropa untuk Brexit, Michel Barnier, menyatakan, "Kami akan bekerja secara konstruktif dengan PM Boris Johnson ketika ia resmi menjabat, untuk memfasilitasi ratigikasi Kesepakatan Keluar dan mencapai Brexit yang sesungguhnya."
Sejumlah pemimpin negara anggota Uni Eropa lainnya juga mengharapkan hal yang sama dari Johnson, termasuk Presiden Prancis, Emmanuel Macron.
"Saya sangat ingin bekerja sama sesegera mungkin dan bukan hanya terkait masalah Eropa dan kelanjutan negosiasi Brexit, tapi juga isu-isu internasional yang berhubungan langsung dengan Inggris dan Jerman, seperti situasi di Iran," katanya.
"Saya mengucapkan selamat kepada @BorisJohnson yang sudah menjadi PM Inggris. Iran tidak mencari konfrontasi, tapi kami punya 1.500 mil di pesisir Teluk Persia. Itu adalah perairan kami dan kami akan menjaganya," tutur Zarif melalui Twitter.
[Gambas:Video CNN]
Tak hanya luar negeri, Johnson juga menghadapi tekanan besar di Inggris, terutama dari kubu pendukungnya yang berharap ia tetap memenuhi janji untuk mengeluarkan negara tersebut dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apa pun.
"Saya harap Boris Johnson dapat menjadi PM yang baik dengan janji 'lakukan atau mati'-nya untuk melakukan Brexit pada 31 Oktober," kata ketua Partai Brexit, Nigel Farage.
Farage kemudian berkata, "'Lakukan atau mati' itu bukan hanya untuk Brexit, tapi juga masa depan Partai Konservatif. Apakah dia punya keberanian untuk melayani negara?" (has)