Hal itu disampaikan Tsai menanggapi kebijakan China yang melarang warganya untuk berpergian ke Taiwan. Ia menganggap China telah melakukan "kesalahan strategis yang besar" dengan menerapkan kebijakan itu.
"Menggunakan turis-turis sebagai alat politik hanya akan memicu rasa antipati di kalangan masyarakat Taiwan. Sektor pariwisata seharusnya tidak boleh dipolitisasi," kata Tsai kepada wartawan di Istana Kepresidenan di Taipei, Kamis (1/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Pariwisata China menyatakan mereka merilis larangan perjalanan itu karena "relasi China dan Taiwan saat ini" tanpa menjelaskan lebih detail.
Hanya para turis dari 47 kota seperti Beijing, Shanghai, dan Xiamen yang diizinkan mengunjungi Taiwan secara mandiri, bukan dengan rombongan tur.
Namun, China tak menjabarkan lebih lanjut larangan ini memungkinkan warga untuk berkunjung ke Taiwan dengan kelompok tur atau tidak.
Kebijakan ini diterapkan ketika hubungan China dan Taiwan kembali memanas. Militer China berencana menggelar latihan di dekat Selat Taiwan pekan ini setelah mengancam akan menyerbu Taipei jika pemerintah wilayah itu kembali menyerukan pemisahan diri.
"Ancaman militer China telah menargetkan seluruh masyarakat Taiwan dan mempengaruhi perdamaian, stabilitas, dan keamanan di kawasan," papar Tsai. (rds/has)