Sang ibu cemas karena usia Crusius yang baru 21 tahun dan kurang berpengalaman menggunakan senjata semacam itu. Namun, dalam pembicaraan melalui sambungan telepon, petugas mengatakan bahwa putranya diizinkan secara legal untuk membeli senjata.
Hingga kini masih belum diketahui apakah senjata yang dilaporkan sang ibu sama dengan yang digunakan Crusius saat melakukan penembakan di El Paso. Kepolisian Allen juga tidak memiliki laporan yang mendokumentasikan rekaman percakapan telepon itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepolisian mengatakan hanya dalam ketiga insiden itu pihaknya berurusan dengan Crusius. Dua pengacara keluarga Crusius mengatakan laporan sang ibu bersifat "informatif" dan tidak memiliki motif apapun terkait adanya kekhawatiran bahwa putranya menjadi ancaman bagi orang lain.
Lihat juga:Warga El Paso Tolak Kedatangan Donald Trump |
Pihak keluarga juga menolak memberikan tanggapan lebih melalui pengacara mereka. Sebuah sumber yang mengenal keluarga Crusius mengatakan dia adalah tipe anak muda yang mudah galau.
Crusius juga disebut sedang mempertimbangkan untuk pindah perguruan tinggi, berencana mendaftar menjadi tentara atau mencari pekerjaan.
"Dia sedang mencoba untuk menemukan apa yang harus dilakukan selanjutnya," ujar sumber tersebut.
Crusius menjadi tersangka dalam aksi penembakan di sebuah toko Walmart El Paso, Texas pada 3 Agustus, yang menewaskan 22 orang serta melukai puluhan lainnya. Ia didakwa melakukan pembunuhan berencana dan sedang ditahan di Lembaga Pemasyarakatan El Paso.
[Gambas:Video CNN]
Jaksa Wilayah El Paso pun sedang berusaha untuk menjatuhkan hukuman mati kepada tersangka. Sebelumnya, para penyelidik juga sempat meninjau tulisan yang diunggah Crusius di papan pesan daring beberapa hari sebelum penembakan.
Tulisan itu dicurigai berhubungan dengan motif penembakan yang dilakukannya. (ajw/ayp)