Melalui Twitter, juru bicara Kementerian Dalam Negeri India melaporkan bahwa pembatasan tersebut "sedang dilonggarkan secara bertahap" di Lembah Kashmir.
Dilansir AFP, Rabu (14/8), India sebelumnya telah memutus sambungan internet dan telekomunikasi di Kashmir selama lebih dari sepekan. Hal ini dilakukan guna mencegah aksi protes dan kerusuhan atas keputusan India mengakhiri status daerah istimewa di wilayah Himalaya tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum ada konfirmasi independen terkait pelonggaran batasan-batasan di Kashmir. Hingga Selasa (13/8) siang waktu setempat, warga Kashmir masih belum dapat dihubungi melalui telepon, serta sambungan internet di wilayah tersebut juga belum dapat diakses.
Sementara itu, juru bicara pemerintah India melaporkan bahwa layanan kesehatan telah disediakan di wilayah Kashmir tanpa adanya hambatan. Mereka juga telah menjamin ketersediaan obat-obatan di setiap rumah sakit di sana.
Sebelumnya, Jaksa Agung K K Venugopal sempat melaporkan kepada Pengadilan Tinggi India bahwa keamanan di wilayah Jammu dan Kashmir berangsur membaik.
"Situasi di Jammu dan Kashmir diperiksa setiap harinya dan ada tanda-tanda perbaikan," ujar Venugopal setelah pihak pengadilan menerima permohonan dari seorang aktivis terkait penerapan larangan di Kashmir.
India dan Pakistan sendiri telah membagi wilayah Kashmir menjadi dua setelah kemerdekaan mereka dari Inggris pada 1947 silam. Namun, selama beberapa dekade, banyak kelompok pemberontak Kashmir berupaya melawan tentara India di sebagian wilayah Kashmir yang dikuasai New Delhi.
[Gambas:Video CNN]
Kelompok pemberontak menginginkan Kashmir bersatu dengan Pakistan atau menjadi negara merdeka. Konflik antara pemberontak dan tentara India itu telah mengakibatkan tewasnya puluhan ribu orang yang kebanyakan adalah penduduk sipil. (ajw/ayp)