Seperti dilansir CNN, Jumat (16/8), Mahkamah Agung Gibraltar menyatakan mereka menyetujui pembebasan kapal tanker itu, yang ditahan sejak 4 Juli lalu. Pemerintah Gibraltar menyatakan mereka memang tidak berniat memperpanjang masa penahanan.
"Pemerintah Gibraltar bersikap sangat hati-hati dalam menahan Grace 1. Pada Juli lalu kami mempunyai bukti kapal itu akan membawa muatan ke Suriah," kata Kepala Pemerintahan Gibraltar, Fabian Picardo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah AS sempat ikut campur sebelum keputusan itu diambil. Dalam sidang yang digelar Kamis (15/8) pagi waktu setempat, Kuasa Hukum Jaksa Agung Gibraltar Joseph Triay menyatakan Kementerian Hukum AS mengajukan perpanjangan masa penahanan Grace 1, tanpa memberikan alasan jelas.
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, mengecam sikap AS yang mencoba menghalangi pembebasan kapal tanker mereka. Bahkan dia menyatakan hal itu sebagai 'upaya pembajakan.'
Iran juga masih menahan kapal tanker berbendera Inggris, Stena Impero, saat melintas di Selat Hormuz. Mereka menganggap kapal itu melanggar aturan pelayaran dunia.
[Gambas:Video CNN]
Juru bicara pemilik kapal Stena Impero menyatakan situasi mereka sangat berbeda ketimbang insiden Grace 1. Namun, dia berharap hal ini sebagai pertanda baik supaya kapalnya juga segera dibebaskan. (ayp/ayp)