Perayaan muncul setelah dewan militer dan kelompok protes menandatangani kesepakatan bersejarah bagi negara di Afrika Utara itu.
"Ini adalah perayaan terbesar yang pernah saya alami di negara ini. Kami memiliki Sudan yang baru," ujar seorang warga Sudan, Saba Mohammed, seraya mengibarkan bendera Sudan, melansir AFP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Wakil Ketua Dewan Militer Mohamed Hamdan Daglo dan perwakilan kelompok protes Aliansi untuk Kebebasan dan Perubahan Ahmed al-Rabie. Penandatanganan dilakukan di Aula Persahabatan yang terletak di samping aliran Sungai Nil.
Deklarasi konstitusional ini dibangun atas kesepakatan politik antara dewan militer dan kelompok pengunjuk rasa pada 17 Juli lalu.
Deklarasi juga sekaligus mendorong pembentukan pemerintahan transisi. Warga akan dipimpin oleh dewan transisi yang beranggotakan 11 orang. Dewan terdiri dari enam warga sipil dan lima tokoh militer.
Momen penandatangan itu memberikan secercah harapan anyar bagi masyarakat Sudan. Saida Khalifa, seorang warga Sudan lainnya, berharap agar negaranya dapat bergerak maju dan membuatnya bangga.
"Senjata-senjata itu harus diam sekarang. Kita harus membawa negara keluar dari kekacauan ini untuk mendapatkan perdamaian dan kebebasan," kata Khalifa.
[Gambas:Video CNN] (asr/asr)