Demo di KBRI, Warga Filipina Desak Pembebasan Papua Barat

CNN Indonesia | Senin, 19/08/2019 14:42 WIB
Demo di KBRI, Warga Filipina Desak Pembebasan Papua Barat Belasan warga Filipina dilaporkan menggelar protes menununtut pembebasan Papua Barat di depan gedung Kedutaan Besar RI di Manila, Senin (19/8). (AP Photo/Aaron Favila)
Jakarta, CNN Indonesia -- Belasan warga Filipina dilaporkan menggelar protes menuntut pembebasan Papua Barat di depan gedung Kedutaan Besar RI di Manila, Senin (19/8).


Berdasarkan pantauan pewarta foto AP, belasan pemrotes itu menyerukan penghentian "pendudukan Indonesia terhadap Papua Barat."

Sejumlah pedemo juga membawa slogan bertuliskan "Bebaskan Papua Barat", "Akhiri Genosida di Papua Barat", hingga "Freeport, Out Of West Papua!"
Selain itu, para pengunjuk rasa menuntut pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk menarik seluruh pasukan TNI dan Polri dari wilayah di paling timur Indonesia itu.
'


Demonstrasi itu disebut bagian dari aksi global "Free West Papua" yang berlangsung selama Agustus ini.

Kepada CNNindonesia.com, pelaksana tugas juru bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah, mengatakan demo di depan KBRI Manila itu dilakukan oleh orang-orang "yang mengatasnamakan kelompok komunis Filipina."

Sementara itu, Sekretaris Kedua Pelaksana Fungsi Sosial dan Budaya KBRI Manila, Agus Buana, menuturkan demonstrasi yang berlangsung sejak Senin pagi itu diikuti oleh 13 warga Filipina yang berasal dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) setempat.

"Kami sedang rapat membahas aksi demo tadi pagi dan segera saya kabari hasilnya nanti," kata Agus saat dikonfirmasi.

Demonstrasi ini berlangsung ketika protes yang berlangsung rusuh juga terjadi di Manokwari dan Jayapura, Papua.

Unjuk rasa yang berlangsung sejak Senin pagi itu membuat situasi dan kondisi di Manokwari mencekam. Para pedemo membakar Kantor DPRD Papua Barat dan sejumlah kendaraan hingga melumpuhkan lalu lintas.

[Gambas:Video CNN]

Toko-toko dan sekolah terpaksa tutup akibat kerusuhan hari ini. Sejumlah warga pendatang di Manokwari dan Jayapura bahkan dilaporkan tak berani keluar rumah untuk beraktivitas.

Aksi demonstrasi dipicu oleh pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya oleh sekelompok anggota ormas pada Jumat (16/8) malam.


Pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Kota Surabaya, disebut bermula dari peredaran foto bendera merah putih yang rusak di depan asrama tersebut di sejumlah grup WhatsApp.

Polisi sempat mengimbau masyarakat pengepung untuk mundur. Namun, keesokan harinya, pada 17 Agustus, polisi mencoba masuk dan melepaskan gas air mata ke dalam asrama tersebut. Setidaknya 43 mahasiswa di dalam asrama itu kemudian diamankan. (rds/has)