Sejak pekan lalu, INPE menuturkan citra satelitnya menemukan 9.507 titik kebakaran baru di Brasil. Sebagian besar titik api itu berada di lembah Amazon, hutan tropis terbesar di dunia.
Gambar satelit menunjukkan negara bagian paling utara Brasil, Roraima, tertutup asap gelap. Otoritas Amazon menetapkan status darurat di selatan Roraima dan Manaus sejak 9 Agustus lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebakaran hutan yang mencapai rekor terparah ini terjadi sejak Presiden Jair Bolsonaro berniat untuk mengembangkan wilayah Amazon untuk pertanian dan pertambangan. Langkah itu menuai kekhawatiran internasional akan potensi meningkatnya deforestasi.
[Gambas:Video CNN]
Ketika ditanya terkait penyebaran karhutla yang tak terkendali, Bolsonaro hanya menganggap saat ini merupakan tahun "queimada" atau pembakaran, ketika petani menggunakan api untuk membersihkan lahan.
"Saya dulu disebut Kapten Chainsaw. Sekarang saya nero, membakar Amazon. Tetapi ini adalah musim queimada," katanya kepada wartawan.
Meskipun begitu, INPE menuturkan kebakaran hutan tidak dapat dikaitkan begitu saja dengan musim kemarau atau fenomena alam.
"Tidak ada yang abnormal tentang iklim tahun ini atau curah hujan di wilayah Amazon yang hanya sedikit di bawah rata-rata," kata peneliti INPE Alberto Setzer.
Setzer menuturkan orang kerap menyalahkan musim kemarau terkait kebakaran hutan di Amazon. Tapi menurut dia itu tidak cukup akurat.
"Musim kemarau menciptakan kondisi yang mempermudah titik api muncul dan menyebar, tapi memantik api adalah pekerjaan manusia baik disengaja maupun tidak disengaja," katanya. (rds/dea)