Melansir Associated Press, Rabu (28/8), Perserikatan Bangsa-Bangsa memprediksi, setidaknya 40 orang hilang dan tenggelam dalam insiden tersebut.
Insiden terbaliknya kapal ini menjadi 'bencana maritim' terbaru yang melibatkan kaum imigran dalam perjalanannya mencari kehidupan yang lebih baik di Eropa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika diakumulasikan, sebanyak 900 orang tenggelam di Laut Mediterania sepanjang 2019," ujar Juru Bicara Badan Pengungsi PBB (UNHCR), Charlie Yaxley.
Libya menjadi titik persimpangan utama bagi para migran menuju Eropa setelah penggulingan dan kematian diktator Moammar Gadhafi pada 2011 lalu. Hal itu membuat negara-negara di Afrika Utara terperosok dalam kekacauan milisi bersenjata dan runtuhnya pemerintahan.
Selama beberapa tahun terakhir, Uni Eropa telah bekerja sama dengan penjaga pantai dan militer Libya untuk menghentikan penyeberangan laut yang berbahaya itu. Kelompok HAM mengatakan, hal tersebut justru membuat para imigran harus semakin terpuruk dengan kungkungan kelompok milisi bersenjata tanpa persediaan makanan dan air yang memadai.
Lebih dari 3 ribu imigran berada dalam bahaya. Pasalnya, pusat-pusat penahanan di dalam dan sekitar Tripoli berdekatan dengan lokasi pertempuran. Dilaporkan sebanyak 44 orang tewas pada Juli lalu akibat serangan udara di pusat penahanan migran.
[Gambas:Video CNN] (asr/asr)