Dekrit yang dikeluarkan di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Brasil itu melarang semua penggunaan api di wilayah tersebut. Kegiatan pertanian masyarakat adat tak termasuk di dalamnya.
Mengutip The Telegraph, Bolsonaro menekankan bahwa larangan bersifat sementara. Dia beralasan, para petani di wilayah Amazon memiliki hak untuk membakar di tanahnya sendiri. "Itu adalah tradisi," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, sejumlah aktivis lingkungan masih meragukan kebijakan yang dikeluarkan Bolsonaru, utamanya soal larangan pembakaran 60 hari. Mereka yakin larangan tak akan berhasil.
"Orang-orang yang membakar tanpa lisensi tidak akan patuh," ujar Rodrigo Junqueira dari Socio-Environmental Institute, mengutip AFP.
Deforestasi menjadi salah satu penyebab kebakaran Hutan Amazon. (REUTERS/Ueslei Marcelino) |
Tak hanya aktivis, keraguan juga dirasakan oleh masyarakat Brasil. "Itu tidak akan berguna," ujar seorang pemilik toko buah di Porto Velho. "Tidak ada pengawasan yang memadai."
World Wildlife Fund (WWF) mengatakan, Brasil telah memiliki undang-undang dan alat untuk mendeteksi deforestasi dan pembakaran ilegal. Lebih lanjut, yang tidak dimiliki Brasil adalah penegakkan hukum.
Para ahli mengatakan, peningkatan pembukaan lahan selama musim kemarau mendorong timbulnya kebakaran. Lebih dari 1.600 kebakaran baru terjadi sepanjang Selasa (27/8) hingga Rabu (28/8).
Sebelumnya, pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 juga telah menyepakati gelontoran dana sebesar US$22 juta untuk membantu mengatasi kebakaran Hutan Amazon. Bantuan muncul di tengah perseteruan antara Bolsonaro dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang terlibat adu mulut.
Bolsonaro menuduh Prancis dan Jerman 'membeli' kedaulatan Brasil setelah G7 menawarkan bantuan dana.
[Gambas:Video CNN] (asr/asr)
Deforestasi menjadi salah satu penyebab kebakaran Hutan Amazon. (REUTERS/Ueslei Marcelino)