Kisah TKI Kesulitan Nongkrong karena Rusuh Demo Hong Kong

CNN Indonesia | Jumat, 30/08/2019 12:59 WIB
Kisah TKI Kesulitan Nongkrong karena Rusuh Demo Hong Kong Demonstrasi di Hong Kong selama hampir tiga bulan terakhir ternyata turut menyusahkan warga Indonesia, terutama para tenaga kerja yang ingin menongkrong. (Reuters/Kai Pfaffenbach)
Jakarta, CNN Indonesia -- Demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Hong Kong selama hampir tiga bulan terakhir ternyata turut menyusahkan warga Indonesia, terutama para tenaga kerja.

Nurhalimah, seorang TKI yang telah bekerja di Hong Kong selama 18 tahun, menuturkan unjuk rasa sejak awal Juni ini menyulitkan dia beraktivitas dan berkumpul saat libur.

"Saya mengalami kesulitan ketika libur karena aktivitas kami sedikit terganggu, harus selalu melihat jadwal lokasi demo untuk menghindari area unjuk rasa supaya tidak terjebak karena sarana transportasi sering macet dan ditutup di area tersebut," kata Nurhalimah kepada CNNIndonesia.com pada Jumat (30/8).


Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri RI, ada 167.937 TKI dari total 174.800 WNI di Hong Kong. Nurhalimah dan para TKI lainnya kerap berkumpul di hari libur untuk bercengkerama sekaligus menggelar diskusi terkait berbagai isu, seperti pendidikan, hingga doa bersama.
Ketua Koalisi Organisasi TKI di Hong Kong (KOTKIHO) itu menuturkan dia dan perkumpulannya kerap menggelar acara di area terbuka, semisal taman kota atau gedung pemerintahan dan swasta.

Namun, mereka terpaksa menyesuaikan aktivitas serta kegiatan di hari libur dengan situasi di lapangan karena rangkaian demonstrasi di Hong Kong tak jarang berakhir ricuh.

"Kami memang mengalami kesulitan untuk berkumpul dan melakukan aktivitas. Kami masih bisa beraktivitas seperti biasa walau mungkin jumlah (TKI yang bisa hadir) sedikit menurun karena ada beberapa yang tidak dibolehkan libur keluar rumah karena kondisi ini," kata Nurhalimah.

Meski begitu, Nurhalimah dan kawan-kawan TKI lainnya tetap bisa menyiasati keadaan tersebut dengan mencari tempat berkumpul yang jauh dari pusat demonstrasi.
Nurhalimah menganggap para pedemo Hong Kong sejauh ini tidak menyulitkan apalagi membahayakan warga asing, terutama WNI. Ia malah menganggap para demonstran selalu membantu warga lokal dan asing agar tidak terjebak di pusaran demonstrasi.

"Kalau masalah khawatir dan rawan atas keselamatan kami itu tidak (khawatir) sih. Yang penting kami tidak berada dekat tempat bentrokan antara demonstran dan polisi, dan kalau toh kita berada deket dengan demonstran ketika kita terjebak masih tetap aman karena mereka tidak akan mengganggu kita, tapi justru membantu kita dengan memberi petunjuk jalan keluar yang tidak macet," katanya.

Meski pedemo Hong Kong sempat menyerang sejumlah bangunan di dekat tempat kerjanya dan membuat situasi mencekam, Nurhalimah mengatakan para demonstran sudah lebih terkendali lantaran kepolisian selalu bersiaga 24 jam di area rawan unjuk rasa.

[Gambas:Video CNN]

Jutaan orang dilaporkan telah turun ke jalan sejak awal Juni lalu. Unjuk rasa diawali dengan protes warga terkait rancangan undang-undang ekstradisi yang memungkinkan tahanan Hong Kong diadili di China.

Meski pemerintah dan parlemen telah membatalkan RUU itu, para pemrotes tetap berunjuk rasa menuntut Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, untuk mundur.

Tak hanya jalanan, demonstrasi juga berlangsung di depan kantor parlemen, gedung Kantor Perhubungan dengan China, hingga sempat melumpuhkan Bandara Internasional Hong Kong selama dua hari.

Situasi tak menentu ini bahkan membuat pemerintah Indonesia mempertimbangkan menangguhkan pengiriman TKI ke Hong Kong jika kondisi di wilayah itu tak kunjung membaik. (rds/has)