Dalam 48 jam pertama sejak pelarangan dikeluarkan, data satelit dari National Space Research Institute (INPE) menunjukkan 3.859 wabah kebakaran baru, di mana sekitar 2.000 di antaranya terkonsentrasi di wilayah Amazon.
Mengutip AFP, Minggu (1/9), sejak Januari hingga akhir Agustus 2019, sebanyak 51,9 persen dari 88.816 kebakaran yang tercatat di Brasil terjadi di hutan hujan. Sejumlah pakar menyebut itu terjadi karena konsekuensi dramatis dan meluasnya deforestasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerap disebut Trump of the Tropics, Bolsonaro telah mempertanyakan perubahan iklim, dan berpendapat bahwa petani terkadang membutuhkan lahan untuk mata pencaharian mereka.
Sejak akhir pekan, ribuan tentara, petugas pemadam kebakaran, dan pesawat terbang telah dikerahkan. Bahkan, kementerian pertahanan mengklaim kebakaran terkendali.
Bolsonaro mengklaim dalam siaran langsung di Facebook, Kamis (29/8), kebakaran tahun ini di bawah rata-rata beberapa tahun terakhir.
Petani Brazil, Peru, Ekuador dan Bolivia umumnya membakar di musim kemarau untuk membersihkan semak belukar di daerah yang gundul. Namun, ini sering mengarah pada pembakaran yang tidak terkendali, yang memakan korban lebih besar di hutan hujan.
Banyak para pecinta lingkungan yang kecewa dengan Pemerintah Bolivia karena baru-baru ini memberi wewenang kepada para petani untuk membakar 20 hektare (ha) atau lebih luas dari biasanya, yaitu 5 ha.
[Gambas:Video CNN]
Hal itu diyakini telah berkontribusi pada ribuan kebakaran hutan yang menghancurkan 1,2 juta ha padang rumput dan hutan sejak Mei.
Menurut data PBB, tanaman ilegal juga mengurangi hutan hujan, seperti budidaya coca Kolombia, yang meliputi sekitar 170 ribu ha.
Kerusakan yang signifikan juga dilakukan oleh operasi penambangan ilegal, yang diperparah dengan penggunaan bahan kimia, seperti merkuri, terutama di wilayah pertambangan emas, yang mencemari tanah dan aliran air. (agn/bir)