Polisi Hong Kong Pakai Semprotan Merica untuk Halau Pedemo

CNN Indonesia | Rabu, 04/09/2019 12:59 WIB
Polisi Hong Kong Pakai Semprotan Merica untuk Halau Pedemo Polisi Hong Kong melemparkan bantal beanbag dan menggunakan semprotan merica untuk menghalau pedemo dalam bentrokan terbaru pada Selasa (3/9) tengah malam. (Reuters/Danish Siddiqui)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi Hong Kong dilaporkan melemparkan bantal beanbag dan menggunakan semprotan merica untuk menghalau pedemo dalam bentrokan terbaru pada Selasa (3/9) tengah malam.

Sebagaimana dilansir Reuters, kepolisian anti-huru-hara melakukan aksi tersebut saat berupaya membubarkan massa yang berkumpul di luar kantor polisi Mong Kok dan stasiun metro Prince Edward.

Kantor penyiaran RTHK melaporkan satu orang pedemo yang memakai masker oksigen dibawa keluar dari tengah kerumunan.


Stasiun metro kereta bawah tanah sering menjadi target demonstrasi hingga mengganggu operasional salah satu layanan transportasi publik utama itu. Polisi dan pedemo juga sering terlibat bentrok di stasiun metro.
Pada awal pekan ini, ratusan pedemo berpakaian serba hitam dan penutup wajah dilaporkan menyerbu stasiun MTR di Kowloon Tong, Fortress Hill, Yau Ma Tei, Prince Edward, dan Mang Kok sejak pukul 07.20 waktu lokal. Hal itu menyebabkan jadwal keberangkatan kereta di jam sibuk itu kacau.

Sekelompok pedemo menempelkan kotak-kotak tisu di pintu gerbong agar kereta tak bisa berangkat. Beberapa pengunjuk rasa bahkan menggunakan payung dan tubuh mereka untuk mencegah penumpang masuk dan keluar gerbong kereta.

Beberapa rekaman video yang tersebar di media sosial menunjukkan aparat kepolisian menangkap dan memukul kerumunan pedemo yang meringkuk di dalam gerbong kereta.
Hong Kong masih terus berada dalam krisis politik terparah setelah jutaan orang dilaporkan turun ke jalan untuk berdemonstrasi sejak awal Juni lalu.

Demonstrasi awalnya dipicu oleh penolakan warga terhadap Rancangan Undang-Undang Ekstradisi, yang memungkinkan tersangka satu kasus diadili di negara lain, termasuk China.

Meski pemerintah dan parlemen telah menangguhkan pembahasan RUU itu, para pemrotes tetap berunjuk rasa menuntut agar Hong Kong merdeka dari China dan Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, mundur.

Tak hanya jalanan, demonstrasi yang kerap rusuh itu juga berlangsung di depan kantor parlemen, gedung Kantor Perhubungan dengan China, hingga sempat melumpuhkan Bandara Internasional Hong Kong selama dua hari.

[Gambas:Video CNN]

Dalam pertemuannya dengan komunitas pengusaha, Lam menuturkan bahwa ia memiliki "kemampuan yang sangat terbatas" untuk mengakhiri krisis. Hal itu terungkap dalam rekaman pertemuannya yang beredar di media.

Lam bahkan menyatakan terpikir untuk mengundurkan diri jika keputusan itu dianggap yang terbaik untuk mengakhiri krisis selama tiga bulan belakangan.

"Jika saya punya pilihan, hal pertama yang saya lakukan adalah mengundurkan diri, dan menyampaikan permohonan maaf sedalam-dalamnya," kata Lam dalam rekaman pada rapat tertutup tersebut. (rds/has)