"Ketika negara-negara itu berduka karena warganya meninggal, maka saya meyakini mereka akan sedikit bias," kata Mahathir di Vladivostok, Rusia, di sela-sela Forum Ekonomi Timur (EEF), seperti dilansir Reuters, Jumat (6/9).
Tim penyelidik gabungan itu terdiri dari sejumlah negara yang warganya menjadi korban dalam insiden MH17. Yaitu Australia, Belanda, Belgia, Malaysia dan Ukraina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim itu menyatakan pada Juni lalu menetapkan empat tersangka. Mereka adalah tiga warga Rusia, Igor Girkin, Sergey Dubinsky dan Oleg Pulatov, serta seorang warga Ukraina, Leonid Kharchenko, yang bertanggung jawab atas kejadian itu.
"Kami tidak bisa menerima begitu saja hasil penyelidikan. Kami sepakat soal identifikasi rudal dan lokasi kejadian. Hanya itu yang bisa diverifikasi. Namun mengenali siapa yang menembak sangat sulit," ujar Mahathir.
Lihat juga:Mahathir Justru Bela Rusia Dalam Kasus MH17 |
Mahathir menyatakan tidak mudah menentukan siapa pelaku yang menembak jatuh pesawat nahas itu.
"Sulit menentukan siapa yang melakukan. Karena sekali rudal itu ditembakkan, mereka bisa pindah ke tempat lain. Kita bisa mengenali jenis dan serpihan rudal, tetapi menuduh siapa yang menembak menurut kami berlebihan," ucap Mahathir.
"Saya tidak mempunyai kerabat yang meninggal dalam kejadian itu, atau berhak atas asuransi. Namun dari pandangan orang luar, sejumlah temuan itu terasa janggal di telinga saya dan rakyat Malaysia," ujar Mahathir.
Mahathir menyarankan supaya tim penyelidik itu mencari bukti lain untuk memastikan siapa pihak yang menembak pesawat itu, dan juga negara yang terlibat.
[Gambas:Video CNN]
"Kalau mereka bisa melakukan itu, maka hal itu baru sah dan saya pikir semua keluarga korban akan bisa mengajukan klaim," kata Mahathir.
Hasil penyelidikan Tim Investigasi Internasional (JIT) menyatakan empat orang, yang terdiri dari tiga warga Rusia dan seorang warga Ukraina, menjadi tersangka atas insiden yang menewaskan seluruh 298 penumpang itu. (ayp/ayp)