Begitu lekat ingatan Singapura akan terminologi itu, The Straits Times bahkan memberi judul berita mereka "Mantan Presiden Indonesia Habibie, Yang Mendeskripsikan Singapura sebagai 'Titik Merah Kecil', Meninggal di Usia 83".
Masyarakat Singapura kini memang dengan bangga menyebut negaranya sendiri sebagai titik merah kecil di peta. Namun saat istilah itu pertama kali muncul, mereka sebenaranya sangat murka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Habibie kemudian berjalan ke arah peta dan menunjuk seraya berkata, "Tidak apa-apa, tapi ada 211 juta orang [di Indonesia]. Semua [wilayah] yang hijau adalah Indonesia, dan titik merah itu adalah Singapura."
"Kami hanya memiliki tiga juta penduduk. Singapura hanyalah titik merah kecil di peta. Bagaimana mungkin kami bisa menolong 211 juta penduduk Indonesia?" kata Goh.
Tak hanya Goh, rakyat Singapura pun meradang karena menganggap ucapan Habibie tersebut sebagai hinaan terhadap negaranya.
Habibie berusaha menenangkan keadaan dengan menjelaskan bahwa maksud pernyataannya adalah untuk menggenjot semangat anak muda agar tetap berusaha sukses meski dibelenggu keterbatasan.
BJ Habibie berusaha menenangkan keadaan dengan menjelaskan bahwa maksud pernyataannya adalah untuk menggenjot semangat anak muda. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Di sisi lain, sebutan itu juga mengingatkan Singapura bahwa mereka hanya bagian kecil dari bumi ini dan sangat rentan.
Berkaitan atau tidak dengan ucapan Habibie, pada 2015 Singapura bahkan merayakan 50 tahun kemerdekaan dengan logo bertuliskan "SG50" yang dibingkai lingkaran merah. (has)
BJ Habibie berusaha menenangkan keadaan dengan menjelaskan bahwa maksud pernyataannya adalah untuk menggenjot semangat anak muda. (CNN Indonesia/Safir Makki)